Tanah Para Raja (1)

Pemandangan dari Pantai di Taman Nukila

Perjalanan ke Kota Ternate memang membuat saya sangat bersemangat. Sebenarnya, seharusnya saya pergi ke daerah Halmahera, pulau di seberang Kota Ternate. Tapi karena sebuah alasan daerah tersebut tidak jadi bisa saya datangi. Singkatnya ketika itu titik di Maluku Utara hilang dari daftar daerah yang harus didatangi.

Beberapa hari setelah pembatalan tersebut, tiba-tiba ada arahan untuk mendatangi Kota Ternate. Wah, saya pun segera mengajukan diri untuk datang ke sana. Gakpapalah ga ke Halmahera yang penting ke Maluku Utara. Kapan lagi coba ke Indonesia Bagian Timur?

Saya berada di kota ini hanya 3 malam 2 hari sehingga tidak banyak yang bisa dikunjungi. Singkat banget memang padahal perjalanan cukup jauh. Dari Jakarta saya dan teman saya, Novi, harus naik pesawat selama 3 jam 50 menit. Itu kalau dapatnya pesawat direct. Dan jangan lupa, di sini beda waktu dua jam sama Jakarta. Berangkat jam 09.45 sampainya jam 15.35. Kalau yang transit dulu? Ya makin panjang apalagi kalau ada yang delay.

Alhamdulilaah Batik Air yang saya naiki ada layarnya jadi saya bisa menonton. Fyi, tidak semua batik air ada tivinya loh. Sayangnya batik air tidak menyediakan headset. Kalau mau, ya bawa sendiri atau beli di pesawat. Harganya standar sih, 25ribu. Tapi saya tidak mau beli karena berbentuk earphone sedangkan telinga saya tidak kuat memakai earphone terlalu lama~

Salah satu hal yang menjadi concern saya ketika akan bepergian adalah: transportasi lokal! Saya sudah melihat bahwa di Ternate ada banyak tempat yang saya bisa kunjungi. Tapi kalau tidak ada alat transportasinya, ya susah juga. Saya sama sekali tidak ada bayangan mengenai Indonesia Bagian Timur. Di sini, saya terbiasa dengan transportasi online atau commuter. Nah, kalau di sana?

Berbekal dari browsingbrowsing, saya dapat informasi bahwa di Ternate bisa sewa ojek perjam dengan harga yang murah. Hanya saja saya tidak menemukan informasi tambahan tentang lokasi sewa ojek tersebut.

Ketika saya browsing lebih lanjut, saya menemukan informasi bahwa di Ternate ada aplikasi ojek online lokal! Wow saya senang sekali dong. Buru-buru saya mengunduh aplikasi yang bernama BAOJEK itu. Jasa yang ditawarkan banyak, tapi dari keterangan aplikasinya baru dua yang berjalan yaitu ojek dan pesan makanan. Menurut saya itu sudah lumayan banget.

Sayangnya ketika saya akan menggunakan aplikasi itu, ternyata tidak ada driver di sekitar saya hehe. Saya sebenarnya tidak tahu juga sih, apa memang tidak ada driver di sekitar saya atau memang jangan-jangan aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan. Karena saya sempat bertanya pada orang local dan dijawab bahwa aplikasi itu belum berfungsi. Cuma sayanya aja yang tidak percayaan jadi tetap saya coba hehe.

Ternate itu, kalau dilihat di peta hanya sebuah titik kecil di tengah perairan. Saking kecilnya, Cuma butuh waktu 3 jam untuk mengitari kota kecil ini. Bahkan mantan wakil walikota di sana bercerita bahwa di masa mudanya beliau bisa kok olahraga mengitari kota ini.

Nah karena kotanya yang tidak kecil jadi urusan transportasi ternyata mudah tidak sesulit bayangan saya. Di jalan-jalan banyak terdapat angkot. Angkotnya sama seperti di Padang, soundsytemnya euy gadang-gadang bana! Jadi kayaknya di sini kalau mau cari angkot sambil merem juga bisa kok asal telinga dipasang baik-baik. Katanya sih, salah satu alasan kenapa pasang volume soundsytem besar-besar biar kalau di jalanan malam hari yang sepi tidak diganggu hantu. Hehe ada-ada saja memang.

Selain angkot, di sini juga mencari ojek itu ternyata mudah. Cukup berdiri saja di pinggir jalan, nanti akan ada yang menawarkan jasa ojek. Saya sudah mencoba ini beberapa kali dan selalu ada yang mengklakson sambil bertanya “ojek?”. Pengemudi-pengemudi ojek yang saya dan teman tumpangi pun tergolong ramah, walaupun ada juga yang nyeleneh nanya minta nomor HP.

Tapi yang saya paling salut adalah, mereka jujur! Dilihat darimanapun jelas sekali kami bukan orang lokal. Sebelum saya akan pergi ke Benteng Kalamata, saya sempat bertanya kepada resepsionis hotel berapa tarif dari hotel sampai tujuan. Kata mbak-mbaknya sekitar 15rb. Kalau di aplikasi baojek, saya cek sekitar 10rb. Berarti memang standarnya sekitar segitu.

Ketika sudah sampai di tujuan, karena uang saya yang pegang jadi saya bayar ojek dengan uang 50ribuan. Sama si abang ojek, dikembalikanlah uang kami 30rb. Saya pikir, oh ya sudahlah bayar 20rb tidak apa-apa. Eh ternyata,  habis itu abang ojeknya bilang ini buat berdua. Ooww. saya dan teman terbengong-bengong mendengar jawaban itu. Lalu abang ojeknya bilang lagi, ini buat berdua. Barulah kami bisa merespons dengan jawaban iya.

Maklum, sudah jadi hal yang sering saya temui kalau harga turis itu dimahalkan daripada harga orang lokal. Jadi saya dan Novi sangat salut dengan abang ojek yang tidak mengambil kesempatan itu. Bukan masalah nominalnya, melainkan kebaikan dia untuk tidak menaikkan harga hanya karena kami turis hehe.