New Normal Starter Kit : ASUS S14 S433

Pandemi Mempercepat Disrupsi

Berkreasi Menembus Batas di Masa Pandemi

“Laptopnya mau dipake buat apa mba? Kok spesifikasinya tinggi?”

Mas-mas penjual laptop bertanya dengan heran. Mungkin, karena saya terlihat masih seperti mahasiswa, tidak ada wajah jago desain grafis atau konten kreator, tetapi memilih memakai laptop yang cukup bagus.

Dulu, aktivitas seperti itulah yang sepertinya membutuhkan spesifikasi laptop yang tinggi. Pekerjaan lain dianggap hanya membutuhkan laptop dengan kapasitas standar. Tapi siapa sangka, hanya 2 tahun setelah terjadinya dialog tersebut, muncul sebuah virus dengan ukuran yang sangat kecil dan memaksa semua orang untuk mempercepat disrupsi?

Ya, adanya virus ini memang membuat tatanan kehidupan berubah secara drastis. Orang-orang yang biasanya melakukan tatap muka secara langsung untuk beraktivitas, kini harus puas dengan bertemu secara daring. Sekolah-sekolah tutup berganti menjadi pembelajaran jarak jauh. Begitu pula dengan perkantoran yang menetapkan protokol bekerja dari rumah untuk sebagian besar karyawannya.

Kata-kata seperti “maaf saya gaptek” seolah-olah menjadi tabu. Tidak ada kata tidak bisa, semua harus beradaptasi dengan teknologi. Mulai dari yang muda hingga yang tua kini harus memanfaatkannya agar tidak kehilangan kesempatan.

Hal tersebut pun menimbulkan konsekuensi yang lain: memiliki laptop dengan spesifikasi tinggi menjadi tidak terelakkan.

Coronavirus,  Bukan Alasan untuk Tak Produktif

Meski sudah memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), pergerakan memang masih terbatas. Kita tidak boleh sembarangan bepergian jika tidak penting. Tetapi, apakah lantas hal tersebut menjadi alasan untuk bermalas-malasan? Tentu tidak.

Sebagai seorang peneliti, saya justru menjadi tertantang dengan kondisi ini. Bukan, saya bukan seorang peneliti yang mencari antivirus dari Corona. Saya adalah seorang peneliti di dunia filantropi. Sebelum adanya virus ini, saya bertugas ke berbagai macam daerah untuk meneliti.

Saya pernah pergi ke daerah bencana dan bertemu dengan para penyintas di Lombok dan Palu. Saya juga sering bertemu dengan penerima bantuan program pemberdayaan dan berbincang-bincang berbagai macam hal. Tak jarang pula, saya dikirim ke daerah-daerah untuk mengisi pelatihan terkait kajian yang dikeluarkan oleh lembaga tempat saya bekerja.

Tentu, banyak hal yang kini tidak bisa saya lakukan. Meski bepergian sudah dimungkinkan, tetapi lembaga tempat saya memilih jalan aman. Semua urusan dinas luar dialihkan menjadi pertemuan secara daring. Beberapa survei yang biasanya saya lakukan sendiri di lapangan, kini harus memaksimalkan surveyor lokal dengan pembekalan terlebih dahulu melalui media daring.

Dare To Be You di Masa Pandemi

Di masa pandemi ini, saya merasa beban pekerjaan selama work from home berkali-kali lipat lebih berat. Tidak ada  batasan yang jelas antara waktu bekerja dan istirahat, semua terasa bias. Agar saya tidak kalah dengan keadaan, saya pun menerapkan tiga hal ini:

  1. Menjalankan Protokol Kesehatan
    Tidak sekedar menaati protokol kesehatan saat berada di luar rumah dengan menggunakan masker maupun mencuci tangan. Namun juga saya perlu menjaga kondisi tubuh dengan makanan sehat, dan aktivitas tubuh secara rutin.
  2. Kreatif di Berbagai Kesempatan
    Menyikapi beban kerja yang bertambah saya harus pintar-pintar mengatur jadwal. Ditambah model pekerjaan  yang beragam yang menuntut saya untuk selalu kreatif menyelesaikan tantangan demi tantangan.
  3. Menyiapkan Perangkat yang Mumpuni
    Terakhir, namun tak kalah penting: perangkat yang memadai. Bagaimana mungkin saya bisa mengisi pelatihan secara daring, jika laptop saya mumpuni? Sudah pasti saya membutuhkan perangkat dengan kamera beresolusi tinggi. Ram yang besar juga diperlukan karena pasti saya akan membuka banyak file selama presentasi. Belum lagi jika saya harus memiliki berbagai macam aplikasi video daring yang akan memakan banyak memori laptop.

Pilihan Gadget untuk Era New Normal

Di saat pandemi seperti inilah,saya merasa bahwa laptop semakin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan hidup. Rasanya saya butuh perangkat laptop yang berani, dengan spesifikasi tinggi, yang ketika saya bekerja laptop tersebut menjadi sebuah identitas diri yang tidak terpisahkan.

Spesifikasi ASUS S14 S433

Beruntunglah, awal Mei lalu ASUS, produsen laptop kesukaan saya mengeluarkan sebuah produk baru: ASUS Vivobook S14 S433. Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia mengatakan bahwa

Didukung hardware terkini, VivoBook S14 S433 merupakan laptop paling trendy dengan performa terbaik di kelasnya.

Membaca berita tersebut, semakin meyakinkan saya bahwa ASUS S14 S433 ini benar-benar cocok dengan karakter saya sebagai seorang peneliti yang dituntut untuk dinamis.

Desain Kekinian yang Mendukung Portabilitas

Ada dua hal yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih desain laptop: estetika dan fungsionalitas. Meski kini masih banyak melakukan kegiatan di rumah saja, akan tiba kembali waktu dimana kita kembali beraktivitas dengan normal. Memilih laptop yang kompak juga ringan sangat mendukung saat kita  memiliki mobilitas tinggi.

Apalagi saya sering dikirim ke daerah untuk waktu yang singkat. Demi efisiensi waktu, saya lebih senang menggunakan ransel. Semua barang, mulai dari laptop, baju, dan peralatan lainnya pun tercampur menjadi satu. Punggung saya seringkali merasa lelah akibat beratnya laptop yang dibawa.

Oleh karena itu, ASUS VivoBook S14 S433 dengan tebal 15,9 mm dan bobot 1,4 kg akan menjadi teman yang tidak merepotkan. Apalagi, di masa sekarang ini perlengkapan yang dibawa juga akan semakin banyak karena alasan kesehatan. Laptop dengan bobot yang ringan dan tipis pastilah akan membuat saya tidak perlu membawa tas yang banyak.

4 Warna Ciamik ASUS S14 S433

Pertimbangan estetis juga tak kalah penting. Laptop dengan desain kece tentu bisa menjadi pendorong semangat kita dalam bekerja, bukan? ASUS Vivobook S14 S433 punya empat (4) pilihan warna : Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver dan Resolute Red. Pinggirannya didesain dengan diamond cut design yang menambah elegan tampilannya.

Berkreasi dengan Stiker Penuh Warna

Desain logo yang segar dan peletakannya di bagian tepi cover depan membuat luasnya negative space yang muncul. Ruang ini bisa dikreasikan dengan berbagai label atau sticker sesuai selera. Saya bisa terlihat profesional dan tetap terasa personal dalam waktu bersamaan.

Performa yang Handal

Processor 10th Gen Intel Core yang Hemat Daya

Diantara sederet jadwal rapat online, saya juga perlu menyiapkan bahan presentasi. Sesekali saya perlu mengedit foto dan membuat infografis agar visualisasi data hasil penelitian semakin mudah dipahami. Aplikasi seperti Google Studio, Flourish, Canva, menjadi mutlak untuk digunakan. Selama ini, saya harus bersabar dengan kapasitas laptop saya yang belum mumpuni sehingga loading aplikasi cukup berat.

Namun, jika menggunakan laptop ini, semua hal tersebut bisa dijalankan secara prima berkat dukungan processor Intel Core 10th generation. Processor terkini ini membuatnya bertenaga juga hemat daya. Maka saya tetap bisa produktif lebih lama meski sedang di luar rumah atau bahkan saat harus pergi ke tempat terpencil yang susah listrik. Ram 8GB yang ditanam juga bisa membuat saya menjalankan aplikasi secara multitasking dengan lancar jaya.

Display yang Nyaman

Tampil Gaya dengan ASUS S14 S433 di Bawah Terik Matahari

Sesekali menyaksikan film kesukaan, atau membuka channel youtube kesayangan saat beristirahat terasa makin spesial berkat layar Full HD, IPS Panel dengan akurasi warna 100% SRGB. Dilengkapi teknologi Nanoedge Display yang membuat layar terasa lega dengan sudut pandang hingga 178 derajat. Tambahan anti glare akan membuat saya tetap nyaman jika suatu saat perlu beraktivitas di bawah terik matahari.

Kualitas Suara Asik

ASUS S14 S433, Kenyamanan Bekerja dan Bersantai dalam Satu Perangkat 

Selama pandemi ini, kegiatan saya penuh dengan mengajar secara daring. Sesekali saya juga harus belajar melalui webinar, atau presentasi paper di konferensi internasional. Jika saya memiliki laptop ASUS S14 S433 ini, tentu tidak akan ada kendala suara karena adanya sokongan speaker Harman Kardon.Tidak hanya itu saja, selain dapat memenuhi kebutuhan kerja saya, menikmati konser virtual dari rumah pun akan terasa jauh lebih menyenangkan.

Konektivitas yang Lengkap dan Mumpuni

Konektivitas Tanpa Batas

Dalam urusan transfer data, saya tidak ragu berkat berbagai port yang ditanam di laptop ini.  Pada sisi kanan terdapat card reader micro SD dan USB 2.0 , sedangkan di sisi kiri terdapat port DC, HDMI, USB 3.2 Gen.1 Type-A, USB 3.2 Gen.1 Type-C, dan Audio Combo 3.5 mm. 

Untuk urusan nirkabel, ASUS S14 S433 ini juga dilengkapi Bluetooth 5.1 dan Wi-FI 6. Wi-Fi 6 merupakan teknologi terkini yang bisa menghadirkan kecepatan jaringan super cepat dengan kualitas lebih baik. Saya tidak khawatir terjadi delay maupun lag saat menjalankan rapat maupun presentasi penting.

Fitur Premium

Fingerprint sudah menjadi hal lumrah sebagai autentikasi di berbagai perangkat. Menjadikan akses masuk lebih cepat dan lebih aman. ASUS Vivobook S14 S433 juga dilengkapi sensor fingerprint yang terintegrasi dengan Windows Hello di Windows 10. Hal ini juga membuat data penelitian saya lebih terjamin keamanannya, karena tidak bisa sembarang orang mengaksesnya.

Log in dengan Windows Hello

Selain fitur fingerprint, pada ASUS Vivobook S14 S433 juga terdapat fitur backlit keyboard yang memungkinkan saya mengetik meski kualitas pencahayaan sedang tidak begitu baik. Satu lagi yang membuat aktivitas bisa semakin mudah adalah didukung kemampuan fast charging, dimana bisa mnegisi 60 % daya dalam 49 menit. Saya tidak takut kehilangan momen akibat laptop tiba-tiba kehabisan energi.

ASUS premium warranty

Jaminan yang Luar Biasa dari ASUS

Aktif menggunakan perangkat laptop, bukan tanpa risiko. Mungkin terjadi kecelakaan kecil yang menyebabkan kerusakan pada perangkat kita. Apalagi bagi saya yang sering sekali membawa laptop untuk bekerja ke luar kota. Tetapi perasaan khawatir saya seketika hilang ketika mengetahui ASUS sangat memberikan perhatian yang besar terhadap garansi yang diberikan. Selain garansi selama dua tahun, ASUS menanggung biaya perbaikan sebesar 80% akibat kerusakan yang disebabkan kesalahan pengguna. Makin merasa aman kan jadinya?

Dare To Be You bersama ASUS S14 S433

ASUS S14 S433: New Normal Starter Kit

Lewat laptop keluaran terbarunya, ASUS memang menantang kita -atau saya- agar lebih berani menjadi diri sendiri. Kreativitas tanpa batas menjadi mutlak dilakukan, tidak berhenti hanya pada pekerjaan kreatif tetapi menembus semua lini yang ada. Pekerjaan-pekerjaan yang dulunya dianggap statis kini pun bertransformasi menjadi dinamis.

Tidak salah memang, jika akhirnya ASUS S14 S433 pun menjadi sebuah starter kit yang saya harapkan akan ada di dalam tas saya sehari-hari. Menemani saya melewati batas-batas teknologi sebagai seorang peneliti di dunia filantropi.

Tulisan ini diikutsertakan di Blog Competition Dare To Be You With Vivobook S14 S433

Gambar dan infografis diolah dari sini, sini, dan sini.

Mengharap Kasih Setahun Sekali

Sumber: www.warningmagz.com

Potret Kesendirian di Nunggu Teka

Apa yang diharapkan dari kehidupan, setelah usia meranggas pasti? Tidak lain tentunya sebuah kebahagiaan yang bagi sebagian orang terwujud dalam kebersamaan dengan keluarga. Sederhana, namun tak semua orang bisa mendapatkan kemewahan tersebut.

Tengoklah sekitar, saat banyak para lanjut usia yang harus hidup sendiri. Pasangannya telah pergi menuju keabadian, pun keturunan tak lagi di sisi, pergi mengepakkan sayap ke semesta luas.

Di saat seperti itu, momen sekali setahun seperti mudik saat lebaranlah yang menjadi asa bagi mereka. Mungkin hanya seminggu dari puluhan minggu yang ada untuk bercengkrama bersama anak cucu. Rasanya  itu sudah lebih dari cukup.

Dalam film pendek berjudul Nunggu Teka, Mahesa Desaga dengan apik menggambarkan betapa pentingnya momen mudik tersebut dari sudut pandang orang tua. Cerdasnya, tanpa menggunakan berbagai macam setting tempat, hanya bermodalkan sebuah rumah tua, namun saya dapat menyelami jiwa penghuninya: Supatemi.

Sebab, rumah bukan sekadar fisik keterbangunan. Tumbuh kembang penghuninya terekam di setiap sudut dan ruang. Keramik yang mengusam, dinding yang tak sehalus dulu, perabotan yang mengusang seolah-olah ingin berkata bahwa,”Hey, aku ikut menua bersamamu.”

Menonton Nunggu Teka, saya seperti sedang melongok ke dalam melalui tepi jendela rumah ini. Kesendirian yang dialami Supatemi saat menunggu anaknya terlihat jelas meski tanpa ekspresi berlebihan atau dialog yang didramatisasi.

Adegannya sederhana berupa gambaran kegiatan sehari-hari tetapi mampu memperlihatkan kondisi kesepian seorang Supatemi. Lihat saja saat ia menyalakan televisi.  Bukan untuk menonton, hanya untuk memecah kesunyian. Atau saat matanya beredar ke sudut-sudut rumah sambil memainkan rambut maupun jari jemarinya, seakan bingung bagaimana menghabiskan waktu.

Menikmati film ini di masa pandemi entah mengapa mengetuk emosi terdalam saya. Membayangkan betapa banyak orang tua yang harus menelan kekecewaan karena tidak bisa berkumpul sejenak dengan keluarga terkasih.

Akhirnya kita pun dituntut untuk kreatif agar bisa bersua meski tanpa kehadiran fisik. Tak sempurna, tetapi semoga itu bisa menjadi pelipur lara untuk orang tua kita yang terjebak kesendirian.

Sungguh, tidak ada salahnya juga untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Siapa tahu, banyak lansia lain yang juga harus menelan kekecewaan. Mungkin kita bukan yang mereka rindukan. Tetapi jika sedikit perhatian kita bisa menjadi penyemangat mereka untuk kembali merajut harapan Nunggu Teka di momen mudik berikutnya, mengapa tidak?

Haruskah Berakhir Sendiri?

Kondisi Supatemi memang lumrah ditemui. Di ujung usia, para lansia ini harus bertahan hidup sendiri. Tinggal sendiri dianggap lebih baik saat hidup bersama keluarga tidaklah memungkinkan. Tak jarang mereka pun meninggal dalam keadaan sunyi.

Meski belum umum di Indonesia, seharusnya orang-orang seperti Supatemi layak mendapatkan kebahagiaan baru dengan tinggal di rumah jompo. Bukan berarti dengan tinggal di sana berarti anak-anak telah membuang mereka. Sungguh, panti jompo mampu menjadi alternatif lebih baik dibandingkan dengan kesendirian. Lansia ini dapat berkumpul bersama teman segenerasi. Urusan kesehatan dan makanan pun terjamin berkat adanya petugas yang membantu.

Di rumah baru ini, paling tidak jika sudah tiba saatnya bagi mereka untuk menutup mata, dan keluarganya belum bisa datang segera, ada teman-teman yang bisa menemani. Sehingga para lansia tidak perlu berakhir sendiri di rumah tua mereka.

Perahu Kertas yang (Berusaha) Berlayar

Berbagai Sumber

Tentu, mengangkat kisah film dari novel laris mengandung risiko besar: apakah eksekusinya akan berhasil memuaskan ekspektasi penonton?

Sedari awal, perahu kertas bukanlah sekadar sebagai simbolis melainkan menjadi bagian penting dalam berkisah. Perahu kertas merupakan alat komunikasi Kugy (Maudy Ayunda) untuk mencurahkan isi hatinya kepada Sosok Neptunus (Penguasa Laut).  Kugy merasa dirinya adalah agen dengan radar Neptunus yang dikirim ke bumi. Imajinasinya yang tinggi tentang cerita-cerita pun akhirnya melahirkan sebuah mimpi bahwa ia ingin menjadi seorang penulis dongeng.

Tetapi Kugy sadar bahwa mimpinya tidak realistis. Di saat seperti itulah, Kugy bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken) yang memiliki keinginan menjadi seorang pelukis, sebuah mimpi yang sama-sama dianggap tidak umum.

Saat Kugy dan Keenan beradu pendapat tentang mimpi

Adegan yang menarik muncul saat mereka saling membicarakan mimpi: Kugy yang berusaha realistis dengan mendapatkan hidup layak seperti orang “normal” barulah mengejar mimpinya dan Keenan yang beranggapan bahwa selayaknya mimpi harus dikejar sesegera mungkin, tanpa peduli pendapat orang lain.

Meski berbeda pandangan tentang cara menggapai mimpi tetapi mereka sebenarnya saling mengagumi. Menimbulkan sebuah romansa dua insan yang terikat benang kuat namun tidak diekspresikan lewat kata-kata yang nyata.

Ide cerita yang diangkat memang menarik, sederhana tetapi seharusnya mampu merangkul banyak penikmat karena kedekatannya dengan keseharian. 

Bukankah semua pernah mengalami masa muda yang penuh gejolak dalam mewujudkan cita yang dibumbui dengan  manis persahabatan juga asmara?

Seperti menyibak diary seseorang, film Perahu Kertas ini mengalir dengan alur maju. Nama lokasi dan tahun juga dituliskan di setiap transisi latar adegan. Sayangnya, alur penceritaan seperti ini cenderung kurang bertenaga membangun ketegangan emosi. Apalagi ditambah dengan banyaknya konflik yang dimunculkan sementara eksekusi detail cerita tidak begitu  mulus.

Kurang gregetnya film ini juga terasa dari kelemahan penggambaran karakter serta kurangnya penghayatan beberapa pemain. Misalnya, dari cara film ini menerjemahkan keanehan cara berpikir Kugy dengan gerak-gerik yang terasa kikuk. 

Begitu juga Adipati Dolken yang menjadi tak bisa dibedakan kapan sesungguhnya ia marah dan kesal karena hampir lebih dari separuh film ia hanya terlihat murung dan bingung. Bagi pecinta novelnya, detail luapan perasaan Keenan yang selalu mencari keberadaan dan kesempatan untuk dekat dengan Kugy pun juga terasa hilang.

Keenan saat berusaha melukis di Bali

Tentu saja masih ada yang bisa kita nikmati, visual yang ditampilkan begitu memikat dari permulaan film. Keindahan Bali yang ditampilkan lewat lukisan, tarian, dan pun menjadi nilai tambah yang eksotis. Belum lagi iringan latar musik yang disajikan sungguh nyaman menemani sepanjang film, terutama saat adegan monolog Kugy yang disajikan dengan diksi yang puitis.

Alunan lagu tersebut seketika membuat kita merasa seperti hanyut ikut berlayar bersama perahu kertas Kugy.

Cerita Kugy dan Keenan memang belum berakhir. Tetapi sayangnya untuk sekuel pertama ini Perahu Kertas memang masih perlu berusaha keras untuk berlayar dengan mulus. Namun semoga, Radar Neptunus dapat menangkap hati lebih banyak orang lagi di sekuel Perahu Kertas selanjutnya.

Depok, 3 Juli 2020

Tulisan ini disertakan dalam lomba #ulasfilmkemdikbud

Memiliki Rumah di Masa Pandemi Semudah Belanja Online dengan SiKasep

FLPP: Jalur Tol menuju Rumah Idaman

Siapa sih yang tidak ingin memiliki rumah sendiri? Semenjak kecil kita telah dikenalkan bahwa papan (rumah) merupakan salah satu dari kebutuhan primer. Apalagi, tinggal di rumah milik sendiri membuat perasaan lebih tentram karena privacy lebih terjaga dan kita bebas melakukan eksplorasi terhadap rumah yang ditempati.

Sesuai data Backlog Kepemilikan Rumah di tahun 2015 tingkat kepemilikan rumah di Indonesia secara nasional mencapai 82,63%, meningkat sebesar 4,63% dibandingkan dengan tahun 2010. Melihat data ini, bisa terlihat tingginya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah.

Masalahnya tidak semua orang bisa memiliki rumah impian dengan cepat. Bagi yang berdaya finansial akan lebih mudah dalam menentukan pilihan dibandingkan dengan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Keterbatasan finansial yang dialami oleh mereka menjadi sebuah hambatan tersendiri untuk memiliki rumah.

Bukti keseriusan pemerintah membantu MBR memiliki hunian (infografis diolah dari www.ppdpp.id)

Sama halnya seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, MBR juga sebenarnya tidak perlu bersedih hati meski finansial mereka terbatas. Sebab, pemerintah sangat memahami bahwa tempat tinggal memang menjadi kebutuhan penduduknya dan telah memberikan perhatian yang serius untuk membantu MBR dalam memiliki rumah. Lihat saja dasar hukum negara kita yaitu UUD 1945 yang kemudian diturunkan menjadi beberapa peraturan lanjutan menyatakan bahwa

pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi setiap orang terutama MBR

Implementasi dari berbagai macam regulasi tersebut adalah dibentuknya Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) dengan tugas utama menyalurkan dan mengelola dana investasi pemerintah untuk pembiayaan perumahan bagi MBR melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga 26 Juni 2020, dana FLPP telah disalurkan sebesar Rp 7.118.883.461.922 dengan jumlah unit rumah sebesar 70.335 unit. Dari segi target, jumlah tersebut setara dengan 68,62%. Artinya, masih terbuka kesempatan sebesar 31,38% bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengajukan pembiayaan dan mendapatkan rumah impian.

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (infografis diolah dari www.ppdpp.id)

Dilema Situasi Pandemi: Sekarang atau Nanti?

Masalahnya adalah, meskipun pemerintah telah memiliki program yang luar biasa tetapi kemunculan COVID-19 yang tidak diduga tentu membuat keraguan lain muncul:

Apakah tepat untuk mengajukan pembiayaan rumah sekarang?

Pikiran tersebut memang wajar dialami oleh masyarakat saat ini. Meski di beberapa tempat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah tidak berlaku dan mulai beralih kepada Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal) tetapi bukan berarti kita bisa bebas beraktifitas begitu saja.

Apalagi dalam mencari rumah yang akan ditempati dalam jangka waktu lama tidak mungkin hanya dengan melihat satu atau dua pilihan. Lokasi yang strategis, pengembang yang memiliki rekam jejak yang baik, serta harga yang masih masuk dalam anggaran tentu membuat kita harus banyak melakukan survei lokasi.

Tetapi sebenarnya kekhawatiran tersebut dapat dipecahkan dengan mudah. Pada tanggal 30 Desember 2019 lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membuat sebuah aplikasi bernama Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) yang dapat mendorong optimalisasi distribusi dan pemanfaatan FLPP di tengah masyarakat. SiKasep menjadi wadah bertemunya berbagai stakeholder perumahan bersubsidi (masyarakat, pemerintah, bank, serta pengembang perumahan).

Aplikasi ini memang dibuat sebelum adanya pandemi COVID-19 tetapi kehadirannya sangat membantu bagi para masyarakat yang ingin mencari rumah impian saat ini. Cukup dengan mengunduh SiKasep, masyarakat dapat melihat informasi perumahan bersubsidi yang berada di lokasi pilihan mereka tanpa perlu keluar rumah. Menariknya lagi, jika di lokasi yang mereka inginkan tidak terdapat rumah bersubsidi, SiKasep dapat memberikan alternatif lokasi perumahan bersubsidi yang bisa dipilih.

Apabila masyarakat menemukan rumah yang mereka minati, mereka dapat mengajukan KPR sesuai dengan bank pelaksana yang dipilih. Terdapat 16 Bank nasional dan 32 Bank Pembangunan Daerah sebagai bank pelaksana penyalur KPR bersubsidi. Tidak hanya bank konvensional tetapi juga ada bank syariah sehingga bisa melayani berbagai preferensi masyarakat.

Cara Menggunakan SiKasep

Keunggulan SiKasep

Mungkin banyak yang merasa khawatir tidak bisa menggunakan aplikasi Sikasep dengan baik. Tetapi tenang saja, aplikasi ini dibuat dengan sangat sederhana namun menyimpan informasi yang begitu banyak. Tampilannya pun sangat bersahabat dan membuat para pengguna aplikasi betah untuk berlama-lama menjelajahi isinya. Bagi yang ingin menggunakan SiKasep, cukup lakukan empat langkah di bawah ini dan voila! Kamu sudah bisa mendapatkan rumah idaman.

Langkah Menggunakan SiKasep

1. Mengunduh Aplikasi SiKasep

Pertama, tentu saja kita harus mengunduh aplikasi ini terlebih dahulu. Ada dua cara yang bisa dilakukan yaitu dengan memindai QR Code yang ada di gambar di bawah ini atau langsung ke Play Store bagi pemilik HP Android dengan kata kunci SiKasep.

Cara Mengunduh Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

2. Melakukan Pendaftaran

Langkah selanjutnya adalah mendaftarkan diri kita pada aplikasi SiKasep. Pilih menu Daftar pada halaman muka. Silakan isi nama lengkap sesuai KTP, kata sandi, nomor KTP, nomor NPWP, penghasilan per bulan, nomor ponsel, dan mencentang kotak syarat dan ketentuan sebagai tanda persetujuan. Bagi yang belum punya NPWP, tenang saja kita tetap bisa mendaftar dengan mengosongkan bagian tersebut. Nah, jika sudah selesai mengisi, pilihlah tombol Lanjut.

Selesai mengisi data diri kita akan diminta melakukan swafoto (Selfie) sambil memegang KTP. Arahkan wajah dan KTP kita sesuai dengan frame yang ada. Setelah selesai, kita akan diminta untuk memotret KTP di kotak yang telah disediakan. Pastikan semua foto jelas dan tidak buram lalu pilih tombol Simpan. Nanti, akan muncul kotak dialog yang menyatakan bahwa registrasi sudah sukses dan kita bisa login ke dalam aplikasi.

Cara Registrasi Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

3. Memilih Rumah Sesuai dengan Lokasi yang Diinginkan

Terdapat dua menu yang dapat kita gunakan untuk mencari rumah sesuai dengan lokasi yang diinginkan. Menu pertama adalah menu Lokasi Rumah Idaman. Pada fitur ini, kita dapat memasukkan lokasi rumah yang diinginkan dan mencari rumah di lokasi yang ditentukan.

Apabila masih belum menemukan rumah pada lokasi yang kita tentukan, kita bisa menggunakan menu kedua yaitu Perumahan sekitar rumah idaman. Pada menu ini akan diperlihatkan data-data perumahan bersubsidi yang berada di sekitar lokasi pilihan kita. Data yang ditampilkan akan mencakup detail nama pengembang, nama perumahan, lokasi, dan jumlah unit rumah yang sudah terjual.

Cara Memilih Rumah Menggunakan Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

4. Mengajukan KPR Bersubsidi

Setelah kita memilih rumah idaman , maka proses dilanjutkan dengan pengajuan KPR bersubsidi. Dimulai dengan memilih Bank pelaksana sebagai mitra dalam menyalurkan FLPP. Pada menu Pilih Bank KPR FLPP tersaji Bank-Bank yang bekerjasama dengan PPDPP. Setelah memilih Bank, tahap selanjutnya adalah pengajuan proses verifikasi. Silahkan pilih menu Cek Status Pengajuan KPR dan tekan tombol ajukan verifikasi.

Proses pertama akan dilakukan Subsidi Checking, yang merupakan bagian otomatis pada sistem untuk mencocokkan data KTP dengan data debitur subsidi perumahan. Apabila lolos pada tahap Subsidi Checking akan dilanjutkan dengan Verifikasi oleh Bank Pelaksana.

Bank akan menghubungi pihak pengaju untuk melengkapi persyaratan dan melakukan verifikasi sesuai standar yang telah ditetapkan. Data pengajuan KPR yang telah lengkap akan dilakukan validasi dengan PPDPP secara Host to Host. Sistem host to host ini memungkinkan terkoneksinya sistem bank pelaksana dengan pusat data PPDPP secara cepat.

Setelah lolos dari tahapan verifikasi, Bank akan mengajukan pencairan dana yang dapat diselesaikan dalam tiga hari kerja. Setelah semua proses dilalui, kita bisa segera mendapatkan dan menempati rumah idaman.

Melihat Alur Status Pengajuan KPR Menggunakan Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

SiKasep: Solusi Mendapatkan Rumah Impian dalam Genggaman

Nah, selama pandemi COVID-19 sudah banyak pembiayaan rumah yang berhasil disetujui dan sudah sampai tahap akad dengan bantuan SiKasep. Contohnya saja, tanggal 19 Juni 2020 lalu Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah melakukan akad massal dengan 500 calon debitur secara daring. Peserta akad massal ini tersebar di enam kota yaitu Medan, Malang, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Jayapura. Rencananya akan ada 1500 debitur yang menjalani akad massal dalam beberapa gelombang.

Kini SiKasep telah menjadi aplikasi yang diandalkan terutama di masa pandemi. Namun, SiKasep terus melakukan pengembangan pada sistem aplikasi sehingga semakin memudahkan penggunanya. Pada aplikasi SiKasep, pengguna juga dapat memberikan bahan evaluasi melalui Survey Kepuasan Masyarakat.

Tidak berhenti sampai disitu, pengembangan lainnya tentu akan terus dilakukan. Merujuk terhadap berita terbaru di Juni 2020 kini SiKasep juga melayani program perumahan bersubsidi lainnya, seperti Subsidi Selisih Bunga (SSB) yang dikelola Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR. Di kemudian hari diharapkan SiKasep dapat menjadi satu aplikasi yang memuat seluruh data jumlah ketersediaan perumahan bersubsidi sekaligus mempertemukannya dengan permintaan yang terus tumbuh di masyarakat.

Kehadiran aplikasi SiKasep menjadikan hunian idaman tidak lagi sekedar angan-angan. Kita dimanjakan dengan perkembangan teknologi informasi sehingga dapat menemukan rumah idaman hanya dalam satu genggaman, tanpa perlu keluar rumah. Prosesnya pun menjadi semudah seperti saat penelusuran jari-jemari kita dalam aplikasi belanja online.

Sumber data: www.ppdpp.id

Tulisan ini diiikutsertakan pada Lomba Karya Tulis Mencari Rumah Tanpa Keluar Rumah Dengan Sikasep

#1dekadeFLPP
#KaryaTulisSiKasep
#DBLKaryaTulisSiKasep

 

Koperasi: Solusi untuk Mencapai Kesejahteraan Masyarakat

Kemiskinan, Tugas Panjang Bangsa Kita

Memang, pengentasan kemiskinan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Ketiadaan uang membuat fokus masyarakat hanya bertumpu pada bagaimana cara bertahan hidup hari ini. Hal tersebut menyebabkan anak-anak yang lahir di tengah kemiskinan diharapkan menjadi penyokong keluarga. Karena diharuskan bekerja, pendidikan pun menjadi terpinggirkan. Permasalahan yang terjadi akibat kemiskinan pun semakin berkembang, mulai dari tingkat kesehatan yang tidak layak karena tidak bisa memenuhi standar gizi, lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki, hingga pada akhirnya jalan pintas pun terjadi, melakukan tindak kriminalitas.

Kemiskinan sebenarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu kemiskinan pedesaan dan kemiskinan perkotaan. Di antara dua kemiskinan tersebut, kemiskinan perkotaan dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan kemiskinan pedesaan. Sebab, bagi orang miskin yang tinggal di desa mereka masih mempunyai alam yang dapat digunakan untuk bertahan hidup.

Tetapi, bagaimana dengan orang miskin perkotaan? Mereka mengalami kebuntuan. Sumber daya alam di perkotaan tidak sebanyak di pedesaan, sudah berganti dengan bangunan-bangunan megah. Mereka tidak bisa ke hutan sekadar mencari pepohonan untuk dimakan buahnya, pun sungai yang ada sudah tercemar oleh sampah bukan ikan yang bisa dikonsumsi atau dijual.

Bagaimana Cara Mengatasi Kemiskinan?

Setidaknya ada dua jenis bantuan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Pertama, memberikan bantuan yang bersifat konsumtif. Dalam hal ini, pemerintah menyediakan kebutuhan dasar masyarakat miskin. Hal ini sudah tercermin dari program-program yang dilakukan seperti Program Jaminan Kesehatan Nasional, Program Keluarga Harapan, Bantuan Sosial Beras Sejahtera, Bantuan Pangan Non Tunai dan sebagainya.

Kedua, adalah memberikan bantuan yang bersifat produktif. Sederhananya, jika bantuan yang bersifat konsumtif merupakan bantuan yang diperlukan untuk jangka pendek, maka bantuan produktif merupakan jenis bantuan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga bisa keluar dari kemiskinan serta meraih kesejahteraan yang lebih tinggi. Dalam hal bantuan kedua, maka dibutuhkan sinergisitas dari berbagai macam elemen yang salah satunya merupakan koperasi.

Mengapa Koperasi?

Meski masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan, tetapi bukan berarti mereka adalah orang-orang yang tidak mau berusaha. Banyak dari mereka yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tetapi mereka masih mengalami keterbatasan.

Contohnya saja, banyak pedagang kecil di sekitar kita yang sebenarnya masih memiliki potensi untuk berkembang namun terhalang oleh modal. Untuk mengandalkan modal dari keluarga ataupun tetangga bisa jadi merupakan hal yang mustahil karena mereka juga menghadapi permasalahan yang sama.

Ingin meminjam dari lembaga keuangan seperti bank? Hal itu juga tidak mungkin karena mereka dianggap tidak bankable, yang disebabkan karena tidak adanya jaminan, laporan keuangan usaha yang tidak ada, kepastian lingkungan bisnis yang meragukan dan sebagainya. Profil risiko yang terlalu tinggi membuat bank tidak bisa memberikan modal karena adanya prinsip kehati-hatian yang harus mereka jaga, konsekuensi dari tujuan bank yang berorientasi profit.

Di lain sisi, berbeda dengan bank, koperasi sebagai salah satu lembaga keuangan mikro memang memiliki dua kaki: profit dan sosial. Sebagaimana yang telah kita ketahui, koperasi memiliki asas kekeluargaan. Semua pihak dianggap setara dan ingin mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati. Menurut salah seorang proklamator sekaligus bapak koperasi Indonesia, Bung Hatta, koperasi memang harus dijadikan sokoguru perekonomian Indonesia karena beberapa hal seperti meningkatkan kemandirian, mendahulukan kepentingan bersama dan budaya asli Indonesia.

Kontribusi Koperasi Zaman Now terhadap Kesejahteraan Bangsa

Pernah mendengar Grameen Bank yang dipelopori oleh Muhammad Yunus dari Bangladesh? Meski menggunakan istilah bank, sejatinya praktek GrameenBank merupakan aplikasi dari lembaga keuangan mikro atau koperasi. Pada tahun 1983-1984, beliau langsung belajar mengenai sistem koperasi ke Indonesia, tepatnya dari Koperasi Setia Budi Wanita di Malang dan Koperasi Setia Bhakti Wanita di Surabaya.

Dan hasilnya? Pada tahun 2006, Muhammad Yunus lewat Grameen Bank berhasil mendapatkan nobel perdamaian. Usahanya membangun perekonomian dari bawah dianggap berhasil membuat rakyat miskin yang awalnya termarjinalkan menjadi sejahtera.

Di Indonesia sendiri, kontribusi koperasi terhadap Gross Domestic Product (GDP) pada tahun 2018 telah menyentuh angka 5,1%. Padahal, di tahun 2014 koperasi hanya mampu menyumbang 1,71% dari GDP.  Kontribusi ini akan semakin meningkat jika peran koperasi terhadap UMKM semakin meningkat. Apalagi, adanya koperasi akan membuat akses permodalan menjadi lebih mudah, peningkatan kualitas bisnis anggota dengan membuat pelatihan yang bermanfaat seperti penulisan laporan keuangan, pemasaran, produksi dan sebagainya serta karena adanya prinsip kekeluargaan membuat para anggota menjadi lebih bersemangat untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa contoh sukses dari koperasi dapat dilihat dari dua Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) berikut ini.

  • KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta

Budaya terjerat rentenir memang masih menjadi fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini. Berangkat dari keinginan membebaskan masyakat dari rentenir, dibentuklah KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta dengan target utama pedagang di pasar. Hal ini membuat masyarakat memiliki pilihan akses permodalan yang lain, tidak bergantung pada  dari rentenir.

Hingga tahun 2017 lalu, anggota KSPPS BMT Beringharjo telah mencapai 47.000 orang. Pembiayaan yang diberikan juga bertambah pesat, dari Rp. 500 ribu hingga kini menjadi Rp. 500jt. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan usaha yang dialami oleh pedangang. Cabang yang dimiliki pun sudah bertambah menjadi 18 cabang. Berkat prestasinya, tahun 2017 lalu KSPPS BMT Beringharjo mendapatkan penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Menteri Koperasi dan UKM.

  • KSPPS BMT Sidogiri di Pasuruan

Koperasi yang berbasiskan pesantren ini memiliki target aset sebesar 5T pada tahun 2018 lalu. Anggota yang dimiliki mencapai 17.000 dan anggota luar bisa mencapai 700.000 orang. Jumlah cabang dan kantor pelayanannya mencapai 280 titik, menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Awalnya, koperasi ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren. Lama kelamaan, dengan proses manajemen yang baik, koperasi akhirnya bisa membantu akses permodalan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu saja, mereka juga turut membant masyakarat agar terlepas dari jeratan rentenir. Prestasi yang luar biasa membuat koperasi ini dianugerahi penghargaan The Best Islamic Micro Finance tahun 2013 dan 2014 dari Karim Consulting Indonesia.

Dua contoh di atas hanyalah sebagian kecil kontribusi koperasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Masih banyak contoh kontribusi koperasi yang minim akan pemberitaan. Kedepannya, koperasi masih memilki potensi yang sangat besar dalam memajukan kesejahteraan Indonesia. Selain itu, juga terdapat tantangan-tantangan seperti penggunaan teknologi, menarik minat generasi milenial dan sebagainya yang harus dihadapi koperasi untuk semakin berkembang. Namun, jika semua stakeholder mau bersama-sama membangun koperasi, tentu tantangan-tantangan tersebut bukanlah masalah yang besar untuk dihadapi. Sepakat?

Depok, 3 November 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog kategori umum di https://praja2019.multiintisarana.com/

Sumber bacaan:

1. Memberdayakan Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2017

2.Peta Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2018

3.https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2019/06/26/kontribusi-koperasi-terhadap-pdb-capai-51

4.https://bmtberingharjo.com

5.https://www.tribunnews.com/regional/2018/02/19/bmt-sidogiri-targetkan-asset-rp-5-trilyun

6.https://bmtugtsidogiri.co.id/

Sumber gambar dari canva, pixabay, KSPPS BMT Beringharjo dan KSPPS BMT UGT Sidogiri