Memiliki Rumah di Masa Pandemi Semudah Belanja Online dengan SiKasep

FLPP: Jalur Tol menuju Rumah Idaman

Siapa sih yang tidak ingin memiliki rumah sendiri? Semenjak kecil kita telah dikenalkan bahwa papan (rumah) merupakan salah satu dari kebutuhan primer. Apalagi, tinggal di rumah milik sendiri membuat perasaan lebih tentram karena privacy lebih terjaga dan kita bebas melakukan eksplorasi terhadap rumah yang ditempati.

Sesuai data Backlog Kepemilikan Rumah di tahun 2015 tingkat kepemilikan rumah di Indonesia secara nasional mencapai 82,63%, meningkat sebesar 4,63% dibandingkan dengan tahun 2010. Melihat data ini, bisa terlihat tingginya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah.

Masalahnya tidak semua orang bisa memiliki rumah impian dengan cepat. Bagi yang berdaya finansial akan lebih mudah dalam menentukan pilihan dibandingkan dengan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Keterbatasan finansial yang dialami oleh mereka menjadi sebuah hambatan tersendiri untuk memiliki rumah.

Bukti keseriusan pemerintah membantu MBR memiliki hunian (infografis diolah dari www.ppdpp.id)

Sama halnya seperti pepatah banyak jalan menuju Roma, MBR juga sebenarnya tidak perlu bersedih hati meski finansial mereka terbatas. Sebab, pemerintah sangat memahami bahwa tempat tinggal memang menjadi kebutuhan penduduknya dan telah memberikan perhatian yang serius untuk membantu MBR dalam memiliki rumah. Lihat saja dasar hukum negara kita yaitu UUD 1945 yang kemudian diturunkan menjadi beberapa peraturan lanjutan menyatakan bahwa

pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi setiap orang terutama MBR

Implementasi dari berbagai macam regulasi tersebut adalah dibentuknya Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) dengan tugas utama menyalurkan dan mengelola dana investasi pemerintah untuk pembiayaan perumahan bagi MBR melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hingga 26 Juni 2020, dana FLPP telah disalurkan sebesar Rp 7.118.883.461.922 dengan jumlah unit rumah sebesar 70.335 unit. Dari segi target, jumlah tersebut setara dengan 68,62%. Artinya, masih terbuka kesempatan sebesar 31,38% bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengajukan pembiayaan dan mendapatkan rumah impian.

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (infografis diolah dari www.ppdpp.id)

Dilema Situasi Pandemi: Sekarang atau Nanti?

Masalahnya adalah, meskipun pemerintah telah memiliki program yang luar biasa tetapi kemunculan COVID-19 yang tidak diduga tentu membuat keraguan lain muncul:

Apakah tepat untuk mengajukan pembiayaan rumah sekarang?

Pikiran tersebut memang wajar dialami oleh masyarakat saat ini. Meski di beberapa tempat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah tidak berlaku dan mulai beralih kepada Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal) tetapi bukan berarti kita bisa bebas beraktifitas begitu saja.

Apalagi dalam mencari rumah yang akan ditempati dalam jangka waktu lama tidak mungkin hanya dengan melihat satu atau dua pilihan. Lokasi yang strategis, pengembang yang memiliki rekam jejak yang baik, serta harga yang masih masuk dalam anggaran tentu membuat kita harus banyak melakukan survei lokasi.

Tetapi sebenarnya kekhawatiran tersebut dapat dipecahkan dengan mudah. Pada tanggal 30 Desember 2019 lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membuat sebuah aplikasi bernama Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) yang dapat mendorong optimalisasi distribusi dan pemanfaatan FLPP di tengah masyarakat. SiKasep menjadi wadah bertemunya berbagai stakeholder perumahan bersubsidi (masyarakat, pemerintah, bank, serta pengembang perumahan).

Aplikasi ini memang dibuat sebelum adanya pandemi COVID-19 tetapi kehadirannya sangat membantu bagi para masyarakat yang ingin mencari rumah impian saat ini. Cukup dengan mengunduh SiKasep, masyarakat dapat melihat informasi perumahan bersubsidi yang berada di lokasi pilihan mereka tanpa perlu keluar rumah. Menariknya lagi, jika di lokasi yang mereka inginkan tidak terdapat rumah bersubsidi, SiKasep dapat memberikan alternatif lokasi perumahan bersubsidi yang bisa dipilih.

Apabila masyarakat menemukan rumah yang mereka minati, mereka dapat mengajukan KPR sesuai dengan bank pelaksana yang dipilih. Terdapat 16 Bank nasional dan 32 Bank Pembangunan Daerah sebagai bank pelaksana penyalur KPR bersubsidi. Tidak hanya bank konvensional tetapi juga ada bank syariah sehingga bisa melayani berbagai preferensi masyarakat.

Cara Menggunakan SiKasep

Keunggulan SiKasep

Mungkin banyak yang merasa khawatir tidak bisa menggunakan aplikasi Sikasep dengan baik. Tetapi tenang saja, aplikasi ini dibuat dengan sangat sederhana namun menyimpan informasi yang begitu banyak. Tampilannya pun sangat bersahabat dan membuat para pengguna aplikasi betah untuk berlama-lama menjelajahi isinya. Bagi yang ingin menggunakan SiKasep, cukup lakukan empat langkah di bawah ini dan voila! Kamu sudah bisa mendapatkan rumah idaman.

Langkah Menggunakan SiKasep

1. Mengunduh Aplikasi SiKasep

Pertama, tentu saja kita harus mengunduh aplikasi ini terlebih dahulu. Ada dua cara yang bisa dilakukan yaitu dengan memindai QR Code yang ada di gambar di bawah ini atau langsung ke Play Store bagi pemilik HP Android dengan kata kunci SiKasep.

Cara Mengunduh Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

2. Melakukan Pendaftaran

Langkah selanjutnya adalah mendaftarkan diri kita pada aplikasi SiKasep. Pilih menu Daftar pada halaman muka. Silakan isi nama lengkap sesuai KTP, kata sandi, nomor KTP, nomor NPWP, penghasilan per bulan, nomor ponsel, dan mencentang kotak syarat dan ketentuan sebagai tanda persetujuan. Bagi yang belum punya NPWP, tenang saja kita tetap bisa mendaftar dengan mengosongkan bagian tersebut. Nah, jika sudah selesai mengisi, pilihlah tombol Lanjut.

Selesai mengisi data diri kita akan diminta melakukan swafoto (Selfie) sambil memegang KTP. Arahkan wajah dan KTP kita sesuai dengan frame yang ada. Setelah selesai, kita akan diminta untuk memotret KTP di kotak yang telah disediakan. Pastikan semua foto jelas dan tidak buram lalu pilih tombol Simpan. Nanti, akan muncul kotak dialog yang menyatakan bahwa registrasi sudah sukses dan kita bisa login ke dalam aplikasi.

Cara Registrasi Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

3. Memilih Rumah Sesuai dengan Lokasi yang Diinginkan

Terdapat dua menu yang dapat kita gunakan untuk mencari rumah sesuai dengan lokasi yang diinginkan. Menu pertama adalah menu Lokasi Rumah Idaman. Pada fitur ini, kita dapat memasukkan lokasi rumah yang diinginkan dan mencari rumah di lokasi yang ditentukan.

Apabila masih belum menemukan rumah pada lokasi yang kita tentukan, kita bisa menggunakan menu kedua yaitu Perumahan sekitar rumah idaman. Pada menu ini akan diperlihatkan data-data perumahan bersubsidi yang berada di sekitar lokasi pilihan kita. Data yang ditampilkan akan mencakup detail nama pengembang, nama perumahan, lokasi, dan jumlah unit rumah yang sudah terjual.

Cara Memilih Rumah Menggunakan Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

4. Mengajukan KPR Bersubsidi

Setelah kita memilih rumah idaman , maka proses dilanjutkan dengan pengajuan KPR bersubsidi. Dimulai dengan memilih Bank pelaksana sebagai mitra dalam menyalurkan FLPP. Pada menu Pilih Bank KPR FLPP tersaji Bank-Bank yang bekerjasama dengan PPDPP. Setelah memilih Bank, tahap selanjutnya adalah pengajuan proses verifikasi. Silahkan pilih menu Cek Status Pengajuan KPR dan tekan tombol ajukan verifikasi.

Proses pertama akan dilakukan Subsidi Checking, yang merupakan bagian otomatis pada sistem untuk mencocokkan data KTP dengan data debitur subsidi perumahan. Apabila lolos pada tahap Subsidi Checking akan dilanjutkan dengan Verifikasi oleh Bank Pelaksana.

Bank akan menghubungi pihak pengaju untuk melengkapi persyaratan dan melakukan verifikasi sesuai standar yang telah ditetapkan. Data pengajuan KPR yang telah lengkap akan dilakukan validasi dengan PPDPP secara Host to Host. Sistem host to host ini memungkinkan terkoneksinya sistem bank pelaksana dengan pusat data PPDPP secara cepat.

Setelah lolos dari tahapan verifikasi, Bank akan mengajukan pencairan dana yang dapat diselesaikan dalam tiga hari kerja. Setelah semua proses dilalui, kita bisa segera mendapatkan dan menempati rumah idaman.

Melihat Alur Status Pengajuan KPR Menggunakan Aplikasi SiKasep (sumber: www.ppdpp.id)

SiKasep: Solusi Mendapatkan Rumah Impian dalam Genggaman

Nah, selama pandemi COVID-19 sudah banyak pembiayaan rumah yang berhasil disetujui dan sudah sampai tahap akad dengan bantuan SiKasep. Contohnya saja, tanggal 19 Juni 2020 lalu Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah melakukan akad massal dengan 500 calon debitur secara daring. Peserta akad massal ini tersebar di enam kota yaitu Medan, Malang, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Jayapura. Rencananya akan ada 1500 debitur yang menjalani akad massal dalam beberapa gelombang.

Kini SiKasep telah menjadi aplikasi yang diandalkan terutama di masa pandemi. Namun, SiKasep terus melakukan pengembangan pada sistem aplikasi sehingga semakin memudahkan penggunanya. Pada aplikasi SiKasep, pengguna juga dapat memberikan bahan evaluasi melalui Survey Kepuasan Masyarakat.

Tidak berhenti sampai disitu, pengembangan lainnya tentu akan terus dilakukan. Merujuk terhadap berita terbaru di Juni 2020 kini SiKasep juga melayani program perumahan bersubsidi lainnya, seperti Subsidi Selisih Bunga (SSB) yang dikelola Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR. Di kemudian hari diharapkan SiKasep dapat menjadi satu aplikasi yang memuat seluruh data jumlah ketersediaan perumahan bersubsidi sekaligus mempertemukannya dengan permintaan yang terus tumbuh di masyarakat.

Kehadiran aplikasi SiKasep menjadikan hunian idaman tidak lagi sekedar angan-angan. Kita dimanjakan dengan perkembangan teknologi informasi sehingga dapat menemukan rumah idaman hanya dalam satu genggaman, tanpa perlu keluar rumah. Prosesnya pun menjadi semudah seperti saat penelusuran jari-jemari kita dalam aplikasi belanja online.

Sumber data: www.ppdpp.id

Tulisan ini diiikutsertakan pada Lomba Karya Tulis Mencari Rumah Tanpa Keluar Rumah Dengan Sikasep

#1dekadeFLPP
#KaryaTulisSiKasep
#DBLKaryaTulisSiKasep

 

Koperasi: Solusi untuk Mencapai Kesejahteraan Masyarakat

Kemiskinan, Tugas Panjang Bangsa Kita

Memang, pengentasan kemiskinan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Ketiadaan uang membuat fokus masyarakat hanya bertumpu pada bagaimana cara bertahan hidup hari ini. Hal tersebut menyebabkan anak-anak yang lahir di tengah kemiskinan diharapkan menjadi penyokong keluarga. Karena diharuskan bekerja, pendidikan pun menjadi terpinggirkan. Permasalahan yang terjadi akibat kemiskinan pun semakin berkembang, mulai dari tingkat kesehatan yang tidak layak karena tidak bisa memenuhi standar gizi, lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki, hingga pada akhirnya jalan pintas pun terjadi, melakukan tindak kriminalitas.

Kemiskinan sebenarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu kemiskinan pedesaan dan kemiskinan perkotaan. Di antara dua kemiskinan tersebut, kemiskinan perkotaan dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan kemiskinan pedesaan. Sebab, bagi orang miskin yang tinggal di desa mereka masih mempunyai alam yang dapat digunakan untuk bertahan hidup.

Tetapi, bagaimana dengan orang miskin perkotaan? Mereka mengalami kebuntuan. Sumber daya alam di perkotaan tidak sebanyak di pedesaan, sudah berganti dengan bangunan-bangunan megah. Mereka tidak bisa ke hutan sekadar mencari pepohonan untuk dimakan buahnya, pun sungai yang ada sudah tercemar oleh sampah bukan ikan yang bisa dikonsumsi atau dijual.

Bagaimana Cara Mengatasi Kemiskinan?

Setidaknya ada dua jenis bantuan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Pertama, memberikan bantuan yang bersifat konsumtif. Dalam hal ini, pemerintah menyediakan kebutuhan dasar masyarakat miskin. Hal ini sudah tercermin dari program-program yang dilakukan seperti Program Jaminan Kesehatan Nasional, Program Keluarga Harapan, Bantuan Sosial Beras Sejahtera, Bantuan Pangan Non Tunai dan sebagainya.

Kedua, adalah memberikan bantuan yang bersifat produktif. Sederhananya, jika bantuan yang bersifat konsumtif merupakan bantuan yang diperlukan untuk jangka pendek, maka bantuan produktif merupakan jenis bantuan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga bisa keluar dari kemiskinan serta meraih kesejahteraan yang lebih tinggi. Dalam hal bantuan kedua, maka dibutuhkan sinergisitas dari berbagai macam elemen yang salah satunya merupakan koperasi.

Mengapa Koperasi?

Meski masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan, tetapi bukan berarti mereka adalah orang-orang yang tidak mau berusaha. Banyak dari mereka yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tetapi mereka masih mengalami keterbatasan.

Contohnya saja, banyak pedagang kecil di sekitar kita yang sebenarnya masih memiliki potensi untuk berkembang namun terhalang oleh modal. Untuk mengandalkan modal dari keluarga ataupun tetangga bisa jadi merupakan hal yang mustahil karena mereka juga menghadapi permasalahan yang sama.

Ingin meminjam dari lembaga keuangan seperti bank? Hal itu juga tidak mungkin karena mereka dianggap tidak bankable, yang disebabkan karena tidak adanya jaminan, laporan keuangan usaha yang tidak ada, kepastian lingkungan bisnis yang meragukan dan sebagainya. Profil risiko yang terlalu tinggi membuat bank tidak bisa memberikan modal karena adanya prinsip kehati-hatian yang harus mereka jaga, konsekuensi dari tujuan bank yang berorientasi profit.

Di lain sisi, berbeda dengan bank, koperasi sebagai salah satu lembaga keuangan mikro memang memiliki dua kaki: profit dan sosial. Sebagaimana yang telah kita ketahui, koperasi memiliki asas kekeluargaan. Semua pihak dianggap setara dan ingin mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati. Menurut salah seorang proklamator sekaligus bapak koperasi Indonesia, Bung Hatta, koperasi memang harus dijadikan sokoguru perekonomian Indonesia karena beberapa hal seperti meningkatkan kemandirian, mendahulukan kepentingan bersama dan budaya asli Indonesia.

Kontribusi Koperasi Zaman Now terhadap Kesejahteraan Bangsa

Pernah mendengar Grameen Bank yang dipelopori oleh Muhammad Yunus dari Bangladesh? Meski menggunakan istilah bank, sejatinya praktek GrameenBank merupakan aplikasi dari lembaga keuangan mikro atau koperasi. Pada tahun 1983-1984, beliau langsung belajar mengenai sistem koperasi ke Indonesia, tepatnya dari Koperasi Setia Budi Wanita di Malang dan Koperasi Setia Bhakti Wanita di Surabaya.

Dan hasilnya? Pada tahun 2006, Muhammad Yunus lewat Grameen Bank berhasil mendapatkan nobel perdamaian. Usahanya membangun perekonomian dari bawah dianggap berhasil membuat rakyat miskin yang awalnya termarjinalkan menjadi sejahtera.

Di Indonesia sendiri, kontribusi koperasi terhadap Gross Domestic Product (GDP) pada tahun 2018 telah menyentuh angka 5,1%. Padahal, di tahun 2014 koperasi hanya mampu menyumbang 1,71% dari GDP.  Kontribusi ini akan semakin meningkat jika peran koperasi terhadap UMKM semakin meningkat. Apalagi, adanya koperasi akan membuat akses permodalan menjadi lebih mudah, peningkatan kualitas bisnis anggota dengan membuat pelatihan yang bermanfaat seperti penulisan laporan keuangan, pemasaran, produksi dan sebagainya serta karena adanya prinsip kekeluargaan membuat para anggota menjadi lebih bersemangat untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa contoh sukses dari koperasi dapat dilihat dari dua Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) berikut ini.

  • KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta

Budaya terjerat rentenir memang masih menjadi fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini. Berangkat dari keinginan membebaskan masyakat dari rentenir, dibentuklah KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta dengan target utama pedagang di pasar. Hal ini membuat masyarakat memiliki pilihan akses permodalan yang lain, tidak bergantung pada  dari rentenir.

Hingga tahun 2017 lalu, anggota KSPPS BMT Beringharjo telah mencapai 47.000 orang. Pembiayaan yang diberikan juga bertambah pesat, dari Rp. 500 ribu hingga kini menjadi Rp. 500jt. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan usaha yang dialami oleh pedangang. Cabang yang dimiliki pun sudah bertambah menjadi 18 cabang. Berkat prestasinya, tahun 2017 lalu KSPPS BMT Beringharjo mendapatkan penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Menteri Koperasi dan UKM.

  • KSPPS BMT Sidogiri di Pasuruan

Koperasi yang berbasiskan pesantren ini memiliki target aset sebesar 5T pada tahun 2018 lalu. Anggota yang dimiliki mencapai 17.000 dan anggota luar bisa mencapai 700.000 orang. Jumlah cabang dan kantor pelayanannya mencapai 280 titik, menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Awalnya, koperasi ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren. Lama kelamaan, dengan proses manajemen yang baik, koperasi akhirnya bisa membantu akses permodalan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu saja, mereka juga turut membant masyakarat agar terlepas dari jeratan rentenir. Prestasi yang luar biasa membuat koperasi ini dianugerahi penghargaan The Best Islamic Micro Finance tahun 2013 dan 2014 dari Karim Consulting Indonesia.

Dua contoh di atas hanyalah sebagian kecil kontribusi koperasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Masih banyak contoh kontribusi koperasi yang minim akan pemberitaan. Kedepannya, koperasi masih memilki potensi yang sangat besar dalam memajukan kesejahteraan Indonesia. Selain itu, juga terdapat tantangan-tantangan seperti penggunaan teknologi, menarik minat generasi milenial dan sebagainya yang harus dihadapi koperasi untuk semakin berkembang. Namun, jika semua stakeholder mau bersama-sama membangun koperasi, tentu tantangan-tantangan tersebut bukanlah masalah yang besar untuk dihadapi. Sepakat?

Depok, 3 November 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog kategori umum di https://praja2019.multiintisarana.com/

Sumber bacaan:

1. Memberdayakan Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2017

2.Peta Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2018

3.https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2019/06/26/kontribusi-koperasi-terhadap-pdb-capai-51

4.https://bmtberingharjo.com

5.https://www.tribunnews.com/regional/2018/02/19/bmt-sidogiri-targetkan-asset-rp-5-trilyun

6.https://bmtugtsidogiri.co.id/

Sumber gambar dari canva, pixabay, KSPPS BMT Beringharjo dan KSPPS BMT UGT Sidogiri

Santuy di Jalan Bareng Ayoomall.com

Siap di jalan supaya tetap santuy. Sumber gambar traveler di sini

Pekerjaan saya saat ini bisa dibilang cukup asik. Selain karena sesuai dengan passion, juga karena saya sering dikirim ke daerah. Jadinya, kalau kerjaan sudah selesai saya masih sempat sekadar berjalan-jalan di lokasi yang dekat sambil menunggu penerbangan pulang. Atau, sesekali jika waktu dinasnya dekat dengan akhir pekan, ya udah bablas aja sabtu-minggu di sana. Ups, pakai biaya pribadi dong pastinya karena kerjaan sudah selesai.

Nah, karena cukup sering melakukan traveling, saya jadi tahu nih kalau banyak hal tak terduga yang bisa saja terjadi saat traveling. Misalnya saja, pesawat batal terbang seperti kejadian yang menimpa saya beberapa waktu lalu yang disebabkan oleh asap tebal. Atau mungkin yang paling sering adalah kelupaan membawa sebuah barang. Duh, itu pasti akan membuat jadi ga santuy di perjalanan.

Membuat checklist barang yang harus dibawa agar santuy di jalan. Sumber gambar checlist di sini

Dari semua hal-hal tidak terduga yang bisa dialami saat perjalanan, satu hal yang bisa diantisipasi adalah merencanakan dengan baik barang-barang yang harus dibawa agar selalu siap di jalan. Kalau perlu, buat daftar checklist. Dengan begitu, risiko ketinggalan barang bisa jadi tidak ada.

Kalau menurut saya sih, selain dompet dan  handphone, ada tiga hal lainnya yang wajib saya bawa setiap traveling. Mau tahu apa saja? Yuk, intip bareng! Jika sudah membawa barang yang tepat sesuai keperluan, dijamin deh traveling akan berjalan santuy dan menyenangkan.

Baju sesuai keperluan

Mix dan match baju juga penting saat traveling. Sumber gambar baju di sini

Sepakat tidak kalau baju adalah hal yang sangat perlu dibawa saat perjalanan sekaligus yang paling banyak memakan tempat? Apalagi buat perempuan, masa iya bajunya tidak matching? Tapi, kalau pergi selama seminggu dan harus bawa baju 7 pasang pasti juga akan sedikit menyulitkan. Apalagi kalau harus berpindah-pindah lokasi, pasti ribet!

Nah, biar tetap gaya tetapi bawaan tidak banyak, biasanya saya sudah mengatur jadwal baju selama bepergian. Mungkin hari pertama atasan warna pink dipasangkan dengan bawahan rok jeans. Besoknya, rok jeansnya dipasangkan dengan atasan warna lain. Jadi, satu rok jeans mungkin bisa dipakai beberapa hari. Tapi, jika dipadupadankan dengan atasan yang berbeda, orang lain belum tentu sadar kan?

Peralatan toiletries

Toiletries yang dapat menjaga penampilan kamu. Sumber gambar toiletries di sini

Walau sedang traveling, kebersihan penampilan harus tetap dijaga dong. Salah satu caranya ya dengan membawa peralatan toiletries. Biasanya, peralatan toiletries memang sudah disediakan di tempat penginapan. Tetapi, jika membawa sendiri pasti akan lebih nyaman apalagi belum tentu yang telah disediakan di tempat menginap cocok dengan tubuh kita.

Salah satu cara menyiasati agar bawaan toiletries ini tidak terlalu memakan tempat adalah dengan membawa semua peralatan yang berukuran kecil mulai dari shampo, sabun dan sebagainya. Hal ini cukup membantu loh mengurangi muatan barang bawaan kamu.

Power bank

Power bank, menjaga kamu tetap eksis. Sumber gambar powerbank di sini

Walaupun sudah membawa chargeran handphone sendiri saat traveling, tetapi tidak ada salahnya loh membawa powerbank juga. Pasti kamu tidak mau dong saat sedang asik membagikan aktivitas perjalanan kamu di media sosial, eh tiba-tiba baterainya habis. Yakin deh kamu akan bete banget.Tetapi, jika kamu punya powerbank sendiri, maka saat baterai handphone habis kamu akan tetap santuy dan bisa kembali aktif di media sosial. Seru, kan?

Nah, itu dia tiga barang versi saya yang wajib dibawa saat traveling. Hanya saja, kadang-kadang ada saja barang traveling yang belum lengkap sehingga harus dibeli terlebih dulu. Kalau masih ada waktu luang sih sebenarnya asik. Hanya saja kadang, urusan kantor membuat saya harus bergantung pada toko online karena tidak ada waktu untuk pergi ke mall terdekat.

Tapi syukur alhamdulillaah, saat ini saya bisa membeli kebutuhan traveling di salah satu pelopor online shopping, ayoomall.com. Barang-barang yang dijual original, koleksinya lengkap, sering ada promo, ada jaminan pengembalian barang dan bahkan untuk jabodetabek bisa bebas ongkos kirim.

Sekalian deh saya bagikan pengalaman saya berbelanja di ayoomall.com. Beberapa waktu lalu, saya sedang melihat-lihat aplikasi ayoomall.com. Tiba-tiba saya kepikiran, apa lebih baik saya beli power bank saja di sini ya? Selama ini, saya memang hanya meminjam powerbank kakak saya. Saat melihat-lihat, akhirnya saya menemukan powerbank original dengan harga murah.  Tidak sampai 10 menit, proses pembelian saya pun selesai tinggal menunggu barang sampai di rumah. Dan kemarin, ketika saya pulang kantor ternyata powerbank saya sudah sampai!

Powerbank, hasil belanja di ayoomall.com. Sumber gambar terompet di sini

Bagi saya yang sulit mengatur waktu untuk bepergian ke mall, adanya aplikasi ini sungguh sangat membantu. Apalagi buat saya yang sering sekali harus traveling dadakan. Duh, mana sempat kalau harus muter-muter mall seharian.

Dan satu hal lagi yang saya suka dari ayoomall.com adalah, selain powerbank, kamu juga bisa membeli peralatan traveling lain di sini. tidak usah khawatir barang palsu karena sudah dijamin ori semua. Dengan membeli peralatan traveling di ayoomall.com, selain bisa menghemat waktu dan tenaga, kamu juga akan selalu siap di jalan supaya tetap santuy.

Nah, kalau sudah tahu semua barang yang harus dibawa dan beli dimana, sekarang kamu tinggal menentukan kapan kamu traveling. Asik, kan?

Depok, 31 Oktober 2019

sumber gambar logo ayoomall.com dari sini

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dari ayoomall.com

Wakaf, Harta Milik Allah untuk Kemaslahatan Ummat

Tahukah kamu, di tengah gempuran gaya hidup hedonisme, perilaku bisnis yang menghalalkan segala cara demi profit, sifat kapitalis bisnis, ternyata Islam mempunyai konsep ekonomi yang sangat luar biasa? Sebuah konsep, yang tidak membedakan antara kegiatan ekonomi untuk komersial dan sosial.

Bingung dengan maksud konsep itu?

Maksudnya, melakukan kegiatan bisnis yang bertujuan untuk komersial boleh-boleh saja. Ingin mendapatkan keuntungan banyak? Tentu boleh. Tetapi, di saat seseorang ingin melakukan aktivitas bisnis namun fakta di lapangan masyarakat sedang mengalami kesusahan, maka mengubah motif profit menjadi motif sosial itu lebih utama.

Mau contoh lebih lanjut? 

Di zaman Rasulullah, tidak jarang para sahabat yang awalnya mau melakukan bisnis tetapi malah akhirnya menyedekahkan semua barang jualannya untuk berperang atau membantu kaum muslimin yang sedang kesusahan. Padahal sebenarnya jika mereka menjualnya dengan harga tinggi, masyarakat juga masih akan berusaha untuk membelinya. Tapi, para sahabat tidak peduli dan malah memilih untuk memberikan barang tersebut secara cuma-cuma.

Mau contoh yang lebih wow lagi?

Dahulu di Madinah, ada sebuah sumur yang tidak pernah kering kepunyaan seorang Yahudi: Ruma. Pada suatu masa, kondisi kekeringan yang melanda membuat warga Madinah harus antri mengambil air di sumur itu. Gratis? Oh, tentu tidak. Ruma mengharuskan setiap orang yang mengambil air untuk membayarnya.

Rasulullah SAW lalu bertanya, adakah umat muslim yang mau membeli sumur tersebut dengan ganjaran surga? Mendengar hal tersebut, Utsman bin Affan pun segera bernegosiasi dengan Ruma untuk membeli sumur itu. Awalnya Ruma tidak mau. Namun Utsman menawarkan sejumlah uang yang sangat besar untuk memiliki sumur tersebut bergantian dengan Ruma, selang-seling satu hari. Ruma yang merasa hal tersebut menguntungkan pun setuju.

Nah, di hari sumur tersebut milik Utsman, beliau menggratiskan kepada siapapun untuk mengambil air di sana. Alhasil, keesokan harinya tidak ada yang mengambil air karena masyarakat bisa mengambil air secara gratis di hari di mana sumur tersebut menjadi milik Utsman. Ruma yang merasa rugi lalu menjual sisa kepemilikannya kepada Utsman.

Sumur Utsman bin Affan. Sumber: https://lifeinsaudiarabia.net

Dan tahukah kamu, sumur tersebut hingga kini masih ada dan manfaatnya masih terasa. Bahkan sumur tersebut berkembang menjadi perkebunan kurma dan menghasilkan uang hingga saat ini. Tidak hanya itu saja, ada sebuah rekening bernama Utsman bin Affan yang menyimpan kekayaan dari sumur yang telah dibeli 14 abad lalu. Padahal, saat itu Usman bisa saja membeli sumur tersebut dan tetap meminta masyarakat untuk membayar. Tetapi ia lebih memilih untuk berniaga dengan Allah, perniagaan yang memang tidak akan pernah merugi.

Apa yang dilakukan oleh Utsman itulah yang dikenal dengan istilah wakaf. Wakaf berarti berarti menahan atau berhenti. Maksudnya, ketika sebuah harta diwakafkan, harta itu menjadi milik Allah. Dan, harta wakaf itu harus digunakan untuk kemaslahatan bersama serta tidak boleh habis atau berkurang nilainya, atau dengan kata lain harus tetap diproduktifkan.

Pertanyaannya, apakah Indonesia mengenal wakaf?

Jawabannya, YES! Indonesia sudah mengenal wakaf sejak lama. Dulu, wakaf yang banyak dikenal masih seputar tanah yang diwakafkan untuk menjadi kuburan dan masjid. Padahal, peruntukan tanah wakaf mencakup banyak hal: sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Perkembangan wakaf di Indonesia pun semakin diperkuat dengan UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf serta saat pembentukan Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada tahun 2007. Dan melihat rekam jejak perjalanan wakaf di Indonesia, sudah banyak inovasi-inovasi yang dilakukan oleh BWI dan Organisasi Pengelola Wakaf (OPW) lainnya dalam memproduktifkan tanah wakaf yang diberikan oleh masyarakat.

Di bidang ekonomi, contohnya saja perkebunan yang dikelola oleh Wakaf Al Azhar di Ciseeng Bogor. Di atas tanah tersebut, akan ditanam pohon jabon dan singkong secara tumpang sari. Selain itu, ada juga rumah sewa yang dibangun di atas tanah wakaf seluas 679 meter persegi yang dikelola oleh Tabung Wakaf Indonesia Dompet Dhuafa (TWI-DD). Pemanfaatan tersebut membuat tanah wakaf menjadi produktif dan hasil keuntungannya dapat disalurkan di bidang sosial bagi para dhuafa.

RS AKA Sribhawono. Sumber: http://tabungwakaf.com

Di bidang kesehatan, sudah banyak rumah sakit atau klinik berbasis wakaf. Sebut saja salah satu contohnya fasilitas RS-AKA Sribhawono di Lampung Timur yang dikelola oleh TWI-DD. Rumah Sakit tersebut sudah beroperasi tahun 2017 silam dengan fasilitas kesehatan yang cukup lengkap. Masyarakat yang tidak mampu pun dapat  berobat dan menikmati semua fasilitas kesehatan tersebut dengan baik.

Wakaf juga sudah memberikan manfaatnya di bidang pendidikan. Salah satu contohnya bisa dilihat pada Pondok Pesantren Modern Gontor. Berkat wakaf yang dimiliki, kini Lembaga Wakaf Gontor telah mengelola aset tanah hingga lebih dari 200 hektar dan tersebar di Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Jombang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, dan Trenggalek. Dengan manfaat yang diperoleh dari wakaf tersebut, Pesantren Gontor dapat mengelola sekolahnya dengan mandiri serta dapat menyediakan pendidikan terbaik bagi para santrinya dengan biaya sekolah yang terjangkau.

Suasana di Gontor. Sumber: https://www.gontor.ac.id

Melihat banyaknya karya-karya wakaf di Indonesia, dapat dikatakan bahwa negara ini sudah cukup bagus dalam hal pengelolaan wakaf. Selain karena didukung regulasi juga karena kerja-kerja nazhir yang professional dalam mengelola asetnya. Bayangkan saja, manajer investasi saja masih bisa rugi tetapi kalau nazhir harus super hati-hati karena syarat harta wakaf yang tidak boleh habis.

Namun, masih banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh pengelola wakaf. Salah satunya adalah dengan memproduktifkan tanah wakaf yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut data Kemenag, tanah wakaf tersebar di 368.093 lokasi dan seluas 49.764,98 hektar. Untuk proses pemafaatannya, tanah-tanah tersebut harus didaftarkan untuk mendapatkan sertifikat. Sayangnya, baru 61,96% tanah yang sudah bersertifikat. Jika tidak memiliki sertifikat tanah tersebut tidak memiliki kekuatan hukum apabila di masa mendatang terdapat sengketa tanah.

Nah, bagaimana cara yang tepat untuk mengelola tanah wakaf agar lebih produktif?

Tiga cara untuk pengelolaan tanah wakaf. Sumber: Pribadi

Setidaknya, ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh organiasi pengelola wakaf. Pertama, bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda). Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mempermudah akses pendaftaran tanah wakaf. Saat semua tanah wakaf sudah tersertifikasi, maka proses pengelolaannya akan menjadi lebih mudah. Sejalan dengan itu, Pemda juga dapat memberikan anggaran untuk membantu memproduktifkan tanah wakaf tersebut.

Kedua, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat umum untuk memberikan wakaf tunai yang dapat digunakan dalam proses pengelolaan tanah wakaf. Jika zakat membutuhkan nishab dan haul tertentu, maka wakaf tunai lebih mudah karena bisa kapan saja dan tidak ada batasan minimal uang yang diberikan. Oleh sebab itu, sebenarnya potensi dana wakaf yang ada di Indonesia itu sangatlah besar.

Ketiga, pemetaan peruntukan tanah wakaf yang tepat. Tentu, mengelola satu tanah wakaf saja tidaklah mudah padahal Indonesia memiliki ratusan ribu yang perlu dikelola. Oleh karena itu, kerjasama seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan untuk pemetaan pemanfaatan tanah wakaf  agar dapat diproduktifkan dengan tepat guna. Bahkan, pemetaan tanah-tanah yang membutuhkan proses ruislag pun juga dapat dilakukan jika tanah wakaf  tersebut berada di lokasi yang sulit diakses.

Memang, tidak mudah melakukan ketiga hal tersebut dalam waktu singkat. Terdapat banyak hal yang harus dibenahi oleh semua pihak terkait dan masih dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Tetapi, jika dulu wakaf dapat berjaya dan memberikan manfaat besar kepada masyarakatnya, maka kenapa sekarang tidak bisa? Kuncinya memang hanya satu yang perlu ditanamkan kepada para pengelola wakaf, apa yang telah disyariatkan oleh Allah, pasti akan selalu membawa kepada jalan kebaikan.

Depok, 23 Oktober 2019

Tulisan ini diikutsertakan di Kompetisi Blog Festival Literasi Zakat dan Wakaf 2019 yang diselenggarakan oleh bimasislam.kemenag.go.id dan literasizakatwakaf.com

Sumber:

www.bwi.go.id

www.siwak.kemenag.go.id/

www.instagram.com/literasizakatwakaf

www.lifeinsaudiarabia.net

hwww.gontor.ac.id/

www.dompetdhuafa.org

www.wakafalazhar.com

www.tabungwakaf.com

www.republika.co.id

 

Tanah Para Raja (1)

Pemandangan dari Pantai di Taman Nukila

Perjalanan ke Kota Ternate memang membuat saya sangat bersemangat. Sebenarnya, seharusnya saya pergi ke daerah Halmahera, pulau di seberang Kota Ternate. Tapi karena sebuah alasan daerah tersebut tidak jadi bisa saya datangi. Singkatnya ketika itu titik di Maluku Utara hilang dari daftar daerah yang harus didatangi.

Beberapa hari setelah pembatalan tersebut, tiba-tiba ada arahan untuk mendatangi Kota Ternate. Wah, saya pun segera mengajukan diri untuk datang ke sana. Gakpapalah ga ke Halmahera yang penting ke Maluku Utara. Kapan lagi coba ke Indonesia Bagian Timur?

Saya berada di kota ini hanya 3 malam 2 hari sehingga tidak banyak yang bisa dikunjungi. Singkat banget memang padahal perjalanan cukup jauh. Dari Jakarta saya dan teman saya, Novi, harus naik pesawat selama 3 jam 50 menit. Itu kalau dapatnya pesawat direct. Dan jangan lupa, di sini beda waktu dua jam sama Jakarta. Berangkat jam 09.45 sampainya jam 15.35. Kalau yang transit dulu? Ya makin panjang apalagi kalau ada yang delay.

Alhamdulilaah Batik Air yang saya naiki ada layarnya jadi saya bisa menonton. Fyi, tidak semua batik air ada tivinya loh. Sayangnya batik air tidak menyediakan headset. Kalau mau, ya bawa sendiri atau beli di pesawat. Harganya standar sih, 25ribu. Tapi saya tidak mau beli karena berbentuk earphone sedangkan telinga saya tidak kuat memakai earphone terlalu lama~

Salah satu hal yang menjadi concern saya ketika akan bepergian adalah: transportasi lokal! Saya sudah melihat bahwa di Ternate ada banyak tempat yang saya bisa kunjungi. Tapi kalau tidak ada alat transportasinya, ya susah juga. Saya sama sekali tidak ada bayangan mengenai Indonesia Bagian Timur. Di sini, saya terbiasa dengan transportasi online atau commuter. Nah, kalau di sana?

Berbekal dari browsingbrowsing, saya dapat informasi bahwa di Ternate bisa sewa ojek perjam dengan harga yang murah. Hanya saja saya tidak menemukan informasi tambahan tentang lokasi sewa ojek tersebut.

Ketika saya browsing lebih lanjut, saya menemukan informasi bahwa di Ternate ada aplikasi ojek online lokal! Wow saya senang sekali dong. Buru-buru saya mengunduh aplikasi yang bernama BAOJEK itu. Jasa yang ditawarkan banyak, tapi dari keterangan aplikasinya baru dua yang berjalan yaitu ojek dan pesan makanan. Menurut saya itu sudah lumayan banget.

Sayangnya ketika saya akan menggunakan aplikasi itu, ternyata tidak ada driver di sekitar saya hehe. Saya sebenarnya tidak tahu juga sih, apa memang tidak ada driver di sekitar saya atau memang jangan-jangan aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan. Karena saya sempat bertanya pada orang local dan dijawab bahwa aplikasi itu belum berfungsi. Cuma sayanya aja yang tidak percayaan jadi tetap saya coba hehe.

Ternate itu, kalau dilihat di peta hanya sebuah titik kecil di tengah perairan. Saking kecilnya, Cuma butuh waktu 3 jam untuk mengitari kota kecil ini. Bahkan mantan wakil walikota di sana bercerita bahwa di masa mudanya beliau bisa kok olahraga mengitari kota ini.

Nah karena kotanya yang tidak kecil jadi urusan transportasi ternyata mudah tidak sesulit bayangan saya. Di jalan-jalan banyak terdapat angkot. Angkotnya sama seperti di Padang, soundsytemnya euy gadang-gadang bana! Jadi kayaknya di sini kalau mau cari angkot sambil merem juga bisa kok asal telinga dipasang baik-baik. Katanya sih, salah satu alasan kenapa pasang volume soundsytem besar-besar biar kalau di jalanan malam hari yang sepi tidak diganggu hantu. Hehe ada-ada saja memang.

Selain angkot, di sini juga mencari ojek itu ternyata mudah. Cukup berdiri saja di pinggir jalan, nanti akan ada yang menawarkan jasa ojek. Saya sudah mencoba ini beberapa kali dan selalu ada yang mengklakson sambil bertanya “ojek?”. Pengemudi-pengemudi ojek yang saya dan teman tumpangi pun tergolong ramah, walaupun ada juga yang nyeleneh nanya minta nomor HP.

Tapi yang saya paling salut adalah, mereka jujur! Dilihat darimanapun jelas sekali kami bukan orang lokal. Sebelum saya akan pergi ke Benteng Kalamata, saya sempat bertanya kepada resepsionis hotel berapa tarif dari hotel sampai tujuan. Kata mbak-mbaknya sekitar 15rb. Kalau di aplikasi baojek, saya cek sekitar 10rb. Berarti memang standarnya sekitar segitu.

Ketika sudah sampai di tujuan, karena uang saya yang pegang jadi saya bayar ojek dengan uang 50ribuan. Sama si abang ojek, dikembalikanlah uang kami 30rb. Saya pikir, oh ya sudahlah bayar 20rb tidak apa-apa. Eh ternyata,  habis itu abang ojeknya bilang ini buat berdua. Ooww. saya dan teman terbengong-bengong mendengar jawaban itu. Lalu abang ojeknya bilang lagi, ini buat berdua. Barulah kami bisa merespons dengan jawaban iya.

Maklum, sudah jadi hal yang sering saya temui kalau harga turis itu dimahalkan daripada harga orang lokal. Jadi saya dan Novi sangat salut dengan abang ojek yang tidak mengambil kesempatan itu. Bukan masalah nominalnya, melainkan kebaikan dia untuk tidak menaikkan harga hanya karena kami turis hehe.