Mengharap Kasih Setahun Sekali

Sumber: www.warningmagz.com

Potret Kesendirian di Nunggu Teka

Apa yang diharapkan dari kehidupan, setelah usia meranggas pasti? Tidak lain tentunya sebuah kebahagiaan yang bagi sebagian orang terwujud dalam kebersamaan dengan keluarga. Sederhana, namun tak semua orang bisa mendapatkan kemewahan tersebut.

Tengoklah sekitar, saat banyak para lanjut usia yang harus hidup sendiri. Pasangannya telah pergi menuju keabadian, pun keturunan tak lagi di sisi, pergi mengepakkan sayap ke semesta luas.

Di saat seperti itu, momen sekali setahun seperti mudik saat lebaranlah yang menjadi asa bagi mereka. Mungkin hanya seminggu dari puluhan minggu yang ada untuk bercengkrama bersama anak cucu. Rasanya  itu sudah lebih dari cukup.

Dalam film pendek berjudul Nunggu Teka, Mahesa Desaga dengan apik menggambarkan betapa pentingnya momen mudik tersebut dari sudut pandang orang tua. Cerdasnya, tanpa menggunakan berbagai macam setting tempat, hanya bermodalkan sebuah rumah tua, namun saya dapat menyelami jiwa penghuninya: Supatemi.

Sebab, rumah bukan sekadar fisik keterbangunan. Tumbuh kembang penghuninya terekam di setiap sudut dan ruang. Keramik yang mengusam, dinding yang tak sehalus dulu, perabotan yang mengusang seolah-olah ingin berkata bahwa,”Hey, aku ikut menua bersamamu.”

Menonton Nunggu Teka, saya seperti sedang melongok ke dalam melalui tepi jendela rumah ini. Kesendirian yang dialami Supatemi saat menunggu anaknya terlihat jelas meski tanpa ekspresi berlebihan atau dialog yang didramatisasi.

Adegannya sederhana berupa gambaran kegiatan sehari-hari tetapi mampu memperlihatkan kondisi kesepian seorang Supatemi. Lihat saja saat ia menyalakan televisi.  Bukan untuk menonton, hanya untuk memecah kesunyian. Atau saat matanya beredar ke sudut-sudut rumah sambil memainkan rambut maupun jari jemarinya, seakan bingung bagaimana menghabiskan waktu.

Menikmati film ini di masa pandemi entah mengapa mengetuk emosi terdalam saya. Membayangkan betapa banyak orang tua yang harus menelan kekecewaan karena tidak bisa berkumpul sejenak dengan keluarga terkasih.

Akhirnya kita pun dituntut untuk kreatif agar bisa bersua meski tanpa kehadiran fisik. Tak sempurna, tetapi semoga itu bisa menjadi pelipur lara untuk orang tua kita yang terjebak kesendirian.

Sungguh, tidak ada salahnya juga untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Siapa tahu, banyak lansia lain yang juga harus menelan kekecewaan. Mungkin kita bukan yang mereka rindukan. Tetapi jika sedikit perhatian kita bisa menjadi penyemangat mereka untuk kembali merajut harapan Nunggu Teka di momen mudik berikutnya, mengapa tidak?

Haruskah Berakhir Sendiri?

Kondisi Supatemi memang lumrah ditemui. Di ujung usia, para lansia ini harus bertahan hidup sendiri. Tinggal sendiri dianggap lebih baik saat hidup bersama keluarga tidaklah memungkinkan. Tak jarang mereka pun meninggal dalam keadaan sunyi.

Meski belum umum di Indonesia, seharusnya orang-orang seperti Supatemi layak mendapatkan kebahagiaan baru dengan tinggal di rumah jompo. Bukan berarti dengan tinggal di sana berarti anak-anak telah membuang mereka. Sungguh, panti jompo mampu menjadi alternatif lebih baik dibandingkan dengan kesendirian. Lansia ini dapat berkumpul bersama teman segenerasi. Urusan kesehatan dan makanan pun terjamin berkat adanya petugas yang membantu.

Di rumah baru ini, paling tidak jika sudah tiba saatnya bagi mereka untuk menutup mata, dan keluarganya belum bisa datang segera, ada teman-teman yang bisa menemani. Sehingga para lansia tidak perlu berakhir sendiri di rumah tua mereka.

Perahu Kertas yang (Berusaha) Berlayar

Berbagai Sumber

Tentu, mengangkat kisah film dari novel laris mengandung risiko besar: apakah eksekusinya akan berhasil memuaskan ekspektasi penonton?

Sedari awal, perahu kertas bukanlah sekadar sebagai simbolis melainkan menjadi bagian penting dalam berkisah. Perahu kertas merupakan alat komunikasi Kugy (Maudy Ayunda) untuk mencurahkan isi hatinya kepada Sosok Neptunus (Penguasa Laut).  Kugy merasa dirinya adalah agen dengan radar Neptunus yang dikirim ke bumi. Imajinasinya yang tinggi tentang cerita-cerita pun akhirnya melahirkan sebuah mimpi bahwa ia ingin menjadi seorang penulis dongeng.

Tetapi Kugy sadar bahwa mimpinya tidak realistis. Di saat seperti itulah, Kugy bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken) yang memiliki keinginan menjadi seorang pelukis, sebuah mimpi yang sama-sama dianggap tidak umum.

Saat Kugy dan Keenan beradu pendapat tentang mimpi

Adegan yang menarik muncul saat mereka saling membicarakan mimpi: Kugy yang berusaha realistis dengan mendapatkan hidup layak seperti orang “normal” barulah mengejar mimpinya dan Keenan yang beranggapan bahwa selayaknya mimpi harus dikejar sesegera mungkin, tanpa peduli pendapat orang lain.

Meski berbeda pandangan tentang cara menggapai mimpi tetapi mereka sebenarnya saling mengagumi. Menimbulkan sebuah romansa dua insan yang terikat benang kuat namun tidak diekspresikan lewat kata-kata yang nyata.

Ide cerita yang diangkat memang menarik, sederhana tetapi seharusnya mampu merangkul banyak penikmat karena kedekatannya dengan keseharian. 

Bukankah semua pernah mengalami masa muda yang penuh gejolak dalam mewujudkan cita yang dibumbui dengan  manis persahabatan juga asmara?

Seperti menyibak diary seseorang, film Perahu Kertas ini mengalir dengan alur maju. Nama lokasi dan tahun juga dituliskan di setiap transisi latar adegan. Sayangnya, alur penceritaan seperti ini cenderung kurang bertenaga membangun ketegangan emosi. Apalagi ditambah dengan banyaknya konflik yang dimunculkan sementara eksekusi detail cerita tidak begitu  mulus.

Kurang gregetnya film ini juga terasa dari kelemahan penggambaran karakter serta kurangnya penghayatan beberapa pemain. Misalnya, dari cara film ini menerjemahkan keanehan cara berpikir Kugy dengan gerak-gerik yang terasa kikuk. 

Begitu juga Adipati Dolken yang menjadi tak bisa dibedakan kapan sesungguhnya ia marah dan kesal karena hampir lebih dari separuh film ia hanya terlihat murung dan bingung. Bagi pecinta novelnya, detail luapan perasaan Keenan yang selalu mencari keberadaan dan kesempatan untuk dekat dengan Kugy pun juga terasa hilang.

Keenan saat berusaha melukis di Bali

Tentu saja masih ada yang bisa kita nikmati, visual yang ditampilkan begitu memikat dari permulaan film. Keindahan Bali yang ditampilkan lewat lukisan, tarian, dan pun menjadi nilai tambah yang eksotis. Belum lagi iringan latar musik yang disajikan sungguh nyaman menemani sepanjang film, terutama saat adegan monolog Kugy yang disajikan dengan diksi yang puitis.

Alunan lagu tersebut seketika membuat kita merasa seperti hanyut ikut berlayar bersama perahu kertas Kugy.

Cerita Kugy dan Keenan memang belum berakhir. Tetapi sayangnya untuk sekuel pertama ini Perahu Kertas memang masih perlu berusaha keras untuk berlayar dengan mulus. Namun semoga, Radar Neptunus dapat menangkap hati lebih banyak orang lagi di sekuel Perahu Kertas selanjutnya.

Depok, 3 Juli 2020

Tulisan ini disertakan dalam lomba #ulasfilmkemdikbud

Koperasi: Solusi untuk Mencapai Kesejahteraan Masyarakat

Kemiskinan, Tugas Panjang Bangsa Kita

Memang, pengentasan kemiskinan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Ketiadaan uang membuat fokus masyarakat hanya bertumpu pada bagaimana cara bertahan hidup hari ini. Hal tersebut menyebabkan anak-anak yang lahir di tengah kemiskinan diharapkan menjadi penyokong keluarga. Karena diharuskan bekerja, pendidikan pun menjadi terpinggirkan. Permasalahan yang terjadi akibat kemiskinan pun semakin berkembang, mulai dari tingkat kesehatan yang tidak layak karena tidak bisa memenuhi standar gizi, lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dimiliki, hingga pada akhirnya jalan pintas pun terjadi, melakukan tindak kriminalitas.

Kemiskinan sebenarnya dapat dibagi menjadi dua yaitu kemiskinan pedesaan dan kemiskinan perkotaan. Di antara dua kemiskinan tersebut, kemiskinan perkotaan dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan kemiskinan pedesaan. Sebab, bagi orang miskin yang tinggal di desa mereka masih mempunyai alam yang dapat digunakan untuk bertahan hidup.

Tetapi, bagaimana dengan orang miskin perkotaan? Mereka mengalami kebuntuan. Sumber daya alam di perkotaan tidak sebanyak di pedesaan, sudah berganti dengan bangunan-bangunan megah. Mereka tidak bisa ke hutan sekadar mencari pepohonan untuk dimakan buahnya, pun sungai yang ada sudah tercemar oleh sampah bukan ikan yang bisa dikonsumsi atau dijual.

Bagaimana Cara Mengatasi Kemiskinan?

Setidaknya ada dua jenis bantuan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. Pertama, memberikan bantuan yang bersifat konsumtif. Dalam hal ini, pemerintah menyediakan kebutuhan dasar masyarakat miskin. Hal ini sudah tercermin dari program-program yang dilakukan seperti Program Jaminan Kesehatan Nasional, Program Keluarga Harapan, Bantuan Sosial Beras Sejahtera, Bantuan Pangan Non Tunai dan sebagainya.

Kedua, adalah memberikan bantuan yang bersifat produktif. Sederhananya, jika bantuan yang bersifat konsumtif merupakan bantuan yang diperlukan untuk jangka pendek, maka bantuan produktif merupakan jenis bantuan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga bisa keluar dari kemiskinan serta meraih kesejahteraan yang lebih tinggi. Dalam hal bantuan kedua, maka dibutuhkan sinergisitas dari berbagai macam elemen yang salah satunya merupakan koperasi.

Mengapa Koperasi?

Meski masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi kemiskinan, tetapi bukan berarti mereka adalah orang-orang yang tidak mau berusaha. Banyak dari mereka yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tetapi mereka masih mengalami keterbatasan.

Contohnya saja, banyak pedagang kecil di sekitar kita yang sebenarnya masih memiliki potensi untuk berkembang namun terhalang oleh modal. Untuk mengandalkan modal dari keluarga ataupun tetangga bisa jadi merupakan hal yang mustahil karena mereka juga menghadapi permasalahan yang sama.

Ingin meminjam dari lembaga keuangan seperti bank? Hal itu juga tidak mungkin karena mereka dianggap tidak bankable, yang disebabkan karena tidak adanya jaminan, laporan keuangan usaha yang tidak ada, kepastian lingkungan bisnis yang meragukan dan sebagainya. Profil risiko yang terlalu tinggi membuat bank tidak bisa memberikan modal karena adanya prinsip kehati-hatian yang harus mereka jaga, konsekuensi dari tujuan bank yang berorientasi profit.

Di lain sisi, berbeda dengan bank, koperasi sebagai salah satu lembaga keuangan mikro memang memiliki dua kaki: profit dan sosial. Sebagaimana yang telah kita ketahui, koperasi memiliki asas kekeluargaan. Semua pihak dianggap setara dan ingin mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati. Menurut salah seorang proklamator sekaligus bapak koperasi Indonesia, Bung Hatta, koperasi memang harus dijadikan sokoguru perekonomian Indonesia karena beberapa hal seperti meningkatkan kemandirian, mendahulukan kepentingan bersama dan budaya asli Indonesia.

Kontribusi Koperasi Zaman Now terhadap Kesejahteraan Bangsa

Pernah mendengar Grameen Bank yang dipelopori oleh Muhammad Yunus dari Bangladesh? Meski menggunakan istilah bank, sejatinya praktek GrameenBank merupakan aplikasi dari lembaga keuangan mikro atau koperasi. Pada tahun 1983-1984, beliau langsung belajar mengenai sistem koperasi ke Indonesia, tepatnya dari Koperasi Setia Budi Wanita di Malang dan Koperasi Setia Bhakti Wanita di Surabaya.

Dan hasilnya? Pada tahun 2006, Muhammad Yunus lewat Grameen Bank berhasil mendapatkan nobel perdamaian. Usahanya membangun perekonomian dari bawah dianggap berhasil membuat rakyat miskin yang awalnya termarjinalkan menjadi sejahtera.

Di Indonesia sendiri, kontribusi koperasi terhadap Gross Domestic Product (GDP) pada tahun 2018 telah menyentuh angka 5,1%. Padahal, di tahun 2014 koperasi hanya mampu menyumbang 1,71% dari GDP.  Kontribusi ini akan semakin meningkat jika peran koperasi terhadap UMKM semakin meningkat. Apalagi, adanya koperasi akan membuat akses permodalan menjadi lebih mudah, peningkatan kualitas bisnis anggota dengan membuat pelatihan yang bermanfaat seperti penulisan laporan keuangan, pemasaran, produksi dan sebagainya serta karena adanya prinsip kekeluargaan membuat para anggota menjadi lebih bersemangat untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa contoh sukses dari koperasi dapat dilihat dari dua Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) berikut ini.

  • KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta

Budaya terjerat rentenir memang masih menjadi fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini. Berangkat dari keinginan membebaskan masyakat dari rentenir, dibentuklah KSPPS BMT Beringharjo di Yogyakarta dengan target utama pedagang di pasar. Hal ini membuat masyarakat memiliki pilihan akses permodalan yang lain, tidak bergantung pada  dari rentenir.

Hingga tahun 2017 lalu, anggota KSPPS BMT Beringharjo telah mencapai 47.000 orang. Pembiayaan yang diberikan juga bertambah pesat, dari Rp. 500 ribu hingga kini menjadi Rp. 500jt. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan usaha yang dialami oleh pedangang. Cabang yang dimiliki pun sudah bertambah menjadi 18 cabang. Berkat prestasinya, tahun 2017 lalu KSPPS BMT Beringharjo mendapatkan penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Menteri Koperasi dan UKM.

  • KSPPS BMT Sidogiri di Pasuruan

Koperasi yang berbasiskan pesantren ini memiliki target aset sebesar 5T pada tahun 2018 lalu. Anggota yang dimiliki mencapai 17.000 dan anggota luar bisa mencapai 700.000 orang. Jumlah cabang dan kantor pelayanannya mencapai 280 titik, menyebar di seluruh wilayah Indonesia.

Awalnya, koperasi ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren. Lama kelamaan, dengan proses manajemen yang baik, koperasi akhirnya bisa membantu akses permodalan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu saja, mereka juga turut membant masyakarat agar terlepas dari jeratan rentenir. Prestasi yang luar biasa membuat koperasi ini dianugerahi penghargaan The Best Islamic Micro Finance tahun 2013 dan 2014 dari Karim Consulting Indonesia.

Dua contoh di atas hanyalah sebagian kecil kontribusi koperasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Masih banyak contoh kontribusi koperasi yang minim akan pemberitaan. Kedepannya, koperasi masih memilki potensi yang sangat besar dalam memajukan kesejahteraan Indonesia. Selain itu, juga terdapat tantangan-tantangan seperti penggunaan teknologi, menarik minat generasi milenial dan sebagainya yang harus dihadapi koperasi untuk semakin berkembang. Namun, jika semua stakeholder mau bersama-sama membangun koperasi, tentu tantangan-tantangan tersebut bukanlah masalah yang besar untuk dihadapi. Sepakat?

Depok, 3 November 2019

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog kategori umum di https://praja2019.multiintisarana.com/

Sumber bacaan:

1. Memberdayakan Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2017

2.Peta Keuangan Mikro Syariah Indonesia, Bank Indonesia, 2018

3.https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2019/06/26/kontribusi-koperasi-terhadap-pdb-capai-51

4.https://bmtberingharjo.com

5.https://www.tribunnews.com/regional/2018/02/19/bmt-sidogiri-targetkan-asset-rp-5-trilyun

6.https://bmtugtsidogiri.co.id/

Sumber gambar dari canva, pixabay, KSPPS BMT Beringharjo dan KSPPS BMT UGT Sidogiri

Tanah Para Raja (1)

Pemandangan dari Pantai di Taman Nukila

Perjalanan ke Kota Ternate memang membuat saya sangat bersemangat. Sebenarnya, seharusnya saya pergi ke daerah Halmahera, pulau di seberang Kota Ternate. Tapi karena sebuah alasan daerah tersebut tidak jadi bisa saya datangi. Singkatnya ketika itu titik di Maluku Utara hilang dari daftar daerah yang harus didatangi.

Beberapa hari setelah pembatalan tersebut, tiba-tiba ada arahan untuk mendatangi Kota Ternate. Wah, saya pun segera mengajukan diri untuk datang ke sana. Gakpapalah ga ke Halmahera yang penting ke Maluku Utara. Kapan lagi coba ke Indonesia Bagian Timur?

Saya berada di kota ini hanya 3 malam 2 hari sehingga tidak banyak yang bisa dikunjungi. Singkat banget memang padahal perjalanan cukup jauh. Dari Jakarta saya dan teman saya, Novi, harus naik pesawat selama 3 jam 50 menit. Itu kalau dapatnya pesawat direct. Dan jangan lupa, di sini beda waktu dua jam sama Jakarta. Berangkat jam 09.45 sampainya jam 15.35. Kalau yang transit dulu? Ya makin panjang apalagi kalau ada yang delay.

Alhamdulilaah Batik Air yang saya naiki ada layarnya jadi saya bisa menonton. Fyi, tidak semua batik air ada tivinya loh. Sayangnya batik air tidak menyediakan headset. Kalau mau, ya bawa sendiri atau beli di pesawat. Harganya standar sih, 25ribu. Tapi saya tidak mau beli karena berbentuk earphone sedangkan telinga saya tidak kuat memakai earphone terlalu lama~

Salah satu hal yang menjadi concern saya ketika akan bepergian adalah: transportasi lokal! Saya sudah melihat bahwa di Ternate ada banyak tempat yang saya bisa kunjungi. Tapi kalau tidak ada alat transportasinya, ya susah juga. Saya sama sekali tidak ada bayangan mengenai Indonesia Bagian Timur. Di sini, saya terbiasa dengan transportasi online atau commuter. Nah, kalau di sana?

Berbekal dari browsingbrowsing, saya dapat informasi bahwa di Ternate bisa sewa ojek perjam dengan harga yang murah. Hanya saja saya tidak menemukan informasi tambahan tentang lokasi sewa ojek tersebut.

Ketika saya browsing lebih lanjut, saya menemukan informasi bahwa di Ternate ada aplikasi ojek online lokal! Wow saya senang sekali dong. Buru-buru saya mengunduh aplikasi yang bernama BAOJEK itu. Jasa yang ditawarkan banyak, tapi dari keterangan aplikasinya baru dua yang berjalan yaitu ojek dan pesan makanan. Menurut saya itu sudah lumayan banget.

Sayangnya ketika saya akan menggunakan aplikasi itu, ternyata tidak ada driver di sekitar saya hehe. Saya sebenarnya tidak tahu juga sih, apa memang tidak ada driver di sekitar saya atau memang jangan-jangan aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan. Karena saya sempat bertanya pada orang local dan dijawab bahwa aplikasi itu belum berfungsi. Cuma sayanya aja yang tidak percayaan jadi tetap saya coba hehe.

Ternate itu, kalau dilihat di peta hanya sebuah titik kecil di tengah perairan. Saking kecilnya, Cuma butuh waktu 3 jam untuk mengitari kota kecil ini. Bahkan mantan wakil walikota di sana bercerita bahwa di masa mudanya beliau bisa kok olahraga mengitari kota ini.

Nah karena kotanya yang tidak kecil jadi urusan transportasi ternyata mudah tidak sesulit bayangan saya. Di jalan-jalan banyak terdapat angkot. Angkotnya sama seperti di Padang, soundsytemnya euy gadang-gadang bana! Jadi kayaknya di sini kalau mau cari angkot sambil merem juga bisa kok asal telinga dipasang baik-baik. Katanya sih, salah satu alasan kenapa pasang volume soundsytem besar-besar biar kalau di jalanan malam hari yang sepi tidak diganggu hantu. Hehe ada-ada saja memang.

Selain angkot, di sini juga mencari ojek itu ternyata mudah. Cukup berdiri saja di pinggir jalan, nanti akan ada yang menawarkan jasa ojek. Saya sudah mencoba ini beberapa kali dan selalu ada yang mengklakson sambil bertanya “ojek?”. Pengemudi-pengemudi ojek yang saya dan teman tumpangi pun tergolong ramah, walaupun ada juga yang nyeleneh nanya minta nomor HP.

Tapi yang saya paling salut adalah, mereka jujur! Dilihat darimanapun jelas sekali kami bukan orang lokal. Sebelum saya akan pergi ke Benteng Kalamata, saya sempat bertanya kepada resepsionis hotel berapa tarif dari hotel sampai tujuan. Kata mbak-mbaknya sekitar 15rb. Kalau di aplikasi baojek, saya cek sekitar 10rb. Berarti memang standarnya sekitar segitu.

Ketika sudah sampai di tujuan, karena uang saya yang pegang jadi saya bayar ojek dengan uang 50ribuan. Sama si abang ojek, dikembalikanlah uang kami 30rb. Saya pikir, oh ya sudahlah bayar 20rb tidak apa-apa. Eh ternyata,  habis itu abang ojeknya bilang ini buat berdua. Ooww. saya dan teman terbengong-bengong mendengar jawaban itu. Lalu abang ojeknya bilang lagi, ini buat berdua. Barulah kami bisa merespons dengan jawaban iya.

Maklum, sudah jadi hal yang sering saya temui kalau harga turis itu dimahalkan daripada harga orang lokal. Jadi saya dan Novi sangat salut dengan abang ojek yang tidak mengambil kesempatan itu. Bukan masalah nominalnya, melainkan kebaikan dia untuk tidak menaikkan harga hanya karena kami turis hehe.

Murah vs Mahal

X: Bank Syariah kok mahal sih dibanding bank konven? Berarti gak syariah dong?

AA: surga itu mahal! Makanya bank syariah mahal.

Percakapan di atas diulang oleh Pak AA di kelas Jumat pekan lalu. Itu jawaban versi setengah bercanda setengah serius sih, walaupun surga emang “mahal” karena ada usaha buat mendapatkannya. Jawaban serius dari Pak AA, karena size bank syariah yang memang masih kecil. Kalau saya bahasakan lebih sederhana, saat  kita jualan dalam skala besar dan skala kecil maka biaya produksi usaha skala kecil pasti lebih besar. Contohnya saja saat berjualan jilbab. Ketika membeli beli bahan dasar kain cuma sebanyak 10 yard sama beli kain 10 rol harganya jauh beda. Bedanya bisa sampai 10 ribu per yardnya. Makanya jangan heran kalau produsen kelas kakap (terkadang) bisa jualan dengan harga lebih murah.

Statement mahal berarti tidak syariah sebenarnya cukup menarik dibahas. Orang-orang memang cenderung memaknai yang namanya syariah harus murah. Padahal kriteria sebenarnya adalah mengenai halal atau haram. Jika halal, misalnya meminjam uang untuk usaha di lembaga keuangan syariah, mau sebesar apapun margin bagi hasil yang diminta, itu tetap halal atau sesuai syariah. Namun, jika pinjam meminjam tersebut menggunakan bunga, mau sekecil apapun bunga yang diminta, mau 0,000000000001 persen kek, tetap aja haram alias ga syariah.

Nah kembali ke topik bank syariah, biar ga mahal, makanya pada beralih dong ke bank syariah biar sizenya semakin gede dan murah :p

-Jakarta 23 Februari 2017-