Santuy di Jalan Bareng Ayoomall.com

Siap di jalan supaya tetap santuy. Sumber gambar traveler di sini

Pekerjaan saya saat ini bisa dibilang cukup asik. Selain karena sesuai dengan passion, juga karena saya sering dikirim ke daerah. Jadinya, kalau kerjaan sudah selesai saya masih sempat sekadar berjalan-jalan di lokasi yang dekat sambil menunggu penerbangan pulang. Atau, sesekali jika waktu dinasnya dekat dengan akhir pekan, ya udah bablas aja sabtu-minggu di sana. Ups, pakai biaya pribadi dong pastinya karena kerjaan sudah selesai.

Nah, karena cukup sering melakukan traveling, saya jadi tahu nih kalau banyak hal tak terduga yang bisa saja terjadi saat traveling. Misalnya saja, pesawat batal terbang seperti kejadian yang menimpa saya beberapa waktu lalu yang disebabkan oleh asap tebal. Atau mungkin yang paling sering adalah kelupaan membawa sebuah barang. Duh, itu pasti akan membuat jadi ga santuy di perjalanan.

Membuat checklist barang yang harus dibawa agar santuy di jalan. Sumber gambar checlist di sini

Dari semua hal-hal tidak terduga yang bisa dialami saat perjalanan, satu hal yang bisa diantisipasi adalah merencanakan dengan baik barang-barang yang harus dibawa agar selalu siap di jalan. Kalau perlu, buat daftar checklist. Dengan begitu, risiko ketinggalan barang bisa jadi tidak ada.

Kalau menurut saya sih, selain dompet dan  handphone, ada tiga hal lainnya yang wajib saya bawa setiap traveling. Mau tahu apa saja? Yuk, intip bareng! Jika sudah membawa barang yang tepat sesuai keperluan, dijamin deh traveling akan berjalan santuy dan menyenangkan.

Baju sesuai keperluan

Mix dan match baju juga penting saat traveling. Sumber gambar baju di sini

Sepakat tidak kalau baju adalah hal yang sangat perlu dibawa saat perjalanan sekaligus yang paling banyak memakan tempat? Apalagi buat perempuan, masa iya bajunya tidak matching? Tapi, kalau pergi selama seminggu dan harus bawa baju 7 pasang pasti juga akan sedikit menyulitkan. Apalagi kalau harus berpindah-pindah lokasi, pasti ribet!

Nah, biar tetap gaya tetapi bawaan tidak banyak, biasanya saya sudah mengatur jadwal baju selama bepergian. Mungkin hari pertama atasan warna pink dipasangkan dengan bawahan rok jeans. Besoknya, rok jeansnya dipasangkan dengan atasan warna lain. Jadi, satu rok jeans mungkin bisa dipakai beberapa hari. Tapi, jika dipadupadankan dengan atasan yang berbeda, orang lain belum tentu sadar kan?

Peralatan toiletries

Toiletries yang dapat menjaga penampilan kamu. Sumber gambar toiletries di sini

Walau sedang traveling, kebersihan penampilan harus tetap dijaga dong. Salah satu caranya ya dengan membawa peralatan toiletries. Biasanya, peralatan toiletries memang sudah disediakan di tempat penginapan. Tetapi, jika membawa sendiri pasti akan lebih nyaman apalagi belum tentu yang telah disediakan di tempat menginap cocok dengan tubuh kita.

Salah satu cara menyiasati agar bawaan toiletries ini tidak terlalu memakan tempat adalah dengan membawa semua peralatan yang berukuran kecil mulai dari shampo, sabun dan sebagainya. Hal ini cukup membantu loh mengurangi muatan barang bawaan kamu.

Power bank

Power bank, menjaga kamu tetap eksis. Sumber gambar powerbank di sini

Walaupun sudah membawa chargeran handphone sendiri saat traveling, tetapi tidak ada salahnya loh membawa powerbank juga. Pasti kamu tidak mau dong saat sedang asik membagikan aktivitas perjalanan kamu di media sosial, eh tiba-tiba baterainya habis. Yakin deh kamu akan bete banget.Tetapi, jika kamu punya powerbank sendiri, maka saat baterai handphone habis kamu akan tetap santuy dan bisa kembali aktif di media sosial. Seru, kan?

Nah, itu dia tiga barang versi saya yang wajib dibawa saat traveling. Hanya saja, kadang-kadang ada saja barang traveling yang belum lengkap sehingga harus dibeli terlebih dulu. Kalau masih ada waktu luang sih sebenarnya asik. Hanya saja kadang, urusan kantor membuat saya harus bergantung pada toko online karena tidak ada waktu untuk pergi ke mall terdekat.

Tapi syukur alhamdulillaah, saat ini saya bisa membeli kebutuhan traveling di salah satu pelopor online shopping, ayoomall.com. Barang-barang yang dijual original, koleksinya lengkap, sering ada promo, ada jaminan pengembalian barang dan bahkan untuk jabodetabek bisa bebas ongkos kirim.

Sekalian deh saya bagikan pengalaman saya berbelanja di ayoomall.com. Beberapa waktu lalu, saya sedang melihat-lihat aplikasi ayoomall.com. Tiba-tiba saya kepikiran, apa lebih baik saya beli power bank saja di sini ya? Selama ini, saya memang hanya meminjam powerbank kakak saya. Saat melihat-lihat, akhirnya saya menemukan powerbank original dengan harga murah.  Tidak sampai 10 menit, proses pembelian saya pun selesai tinggal menunggu barang sampai di rumah. Dan kemarin, ketika saya pulang kantor ternyata powerbank saya sudah sampai!

Powerbank, hasil belanja di ayoomall.com. Sumber gambar terompet di sini

Bagi saya yang sulit mengatur waktu untuk bepergian ke mall, adanya aplikasi ini sungguh sangat membantu. Apalagi buat saya yang sering sekali harus traveling dadakan. Duh, mana sempat kalau harus muter-muter mall seharian.

Dan satu hal lagi yang saya suka dari ayoomall.com adalah, selain powerbank, kamu juga bisa membeli peralatan traveling lain di sini. tidak usah khawatir barang palsu karena sudah dijamin ori semua. Dengan membeli peralatan traveling di ayoomall.com, selain bisa menghemat waktu dan tenaga, kamu juga akan selalu siap di jalan supaya tetap santuy.

Nah, kalau sudah tahu semua barang yang harus dibawa dan beli dimana, sekarang kamu tinggal menentukan kapan kamu traveling. Asik, kan?

Depok, 31 Oktober 2019

sumber gambar logo ayoomall.com dari sini

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dari ayoomall.com

Wakaf, Harta Milik Allah untuk Kemaslahatan Ummat

Tahukah kamu, di tengah gempuran gaya hidup hedonisme, perilaku bisnis yang menghalalkan segala cara demi profit, sifat kapitalis bisnis, ternyata Islam mempunyai konsep ekonomi yang sangat luar biasa? Sebuah konsep, yang tidak membedakan antara kegiatan ekonomi untuk komersial dan sosial.

Bingung dengan maksud konsep itu?

Maksudnya, melakukan kegiatan bisnis yang bertujuan untuk komersial boleh-boleh saja. Ingin mendapatkan keuntungan banyak? Tentu boleh. Tetapi, di saat seseorang ingin melakukan aktivitas bisnis namun fakta di lapangan masyarakat sedang mengalami kesusahan, maka mengubah motif profit menjadi motif sosial itu lebih utama.

Mau contoh lebih lanjut? 

Di zaman Rasulullah, tidak jarang para sahabat yang awalnya mau melakukan bisnis tetapi malah akhirnya menyedekahkan semua barang jualannya untuk berperang atau membantu kaum muslimin yang sedang kesusahan. Padahal sebenarnya jika mereka menjualnya dengan harga tinggi, masyarakat juga masih akan berusaha untuk membelinya. Tapi, para sahabat tidak peduli dan malah memilih untuk memberikan barang tersebut secara cuma-cuma.

Mau contoh yang lebih wow lagi?

Dahulu di Madinah, ada sebuah sumur yang tidak pernah kering kepunyaan seorang Yahudi: Ruma. Pada suatu masa, kondisi kekeringan yang melanda membuat warga Madinah harus antri mengambil air di sumur itu. Gratis? Oh, tentu tidak. Ruma mengharuskan setiap orang yang mengambil air untuk membayarnya.

Rasulullah SAW lalu bertanya, adakah umat muslim yang mau membeli sumur tersebut dengan ganjaran surga? Mendengar hal tersebut, Utsman bin Affan pun segera bernegosiasi dengan Ruma untuk membeli sumur itu. Awalnya Ruma tidak mau. Namun Utsman menawarkan sejumlah uang yang sangat besar untuk memiliki sumur tersebut bergantian dengan Ruma, selang-seling satu hari. Ruma yang merasa hal tersebut menguntungkan pun setuju.

Nah, di hari sumur tersebut milik Utsman, beliau menggratiskan kepada siapapun untuk mengambil air di sana. Alhasil, keesokan harinya tidak ada yang mengambil air karena masyarakat bisa mengambil air secara gratis di hari di mana sumur tersebut menjadi milik Utsman. Ruma yang merasa rugi lalu menjual sisa kepemilikannya kepada Utsman.

Sumur Utsman bin Affan. Sumber: https://lifeinsaudiarabia.net

Dan tahukah kamu, sumur tersebut hingga kini masih ada dan manfaatnya masih terasa. Bahkan sumur tersebut berkembang menjadi perkebunan kurma dan menghasilkan uang hingga saat ini. Tidak hanya itu saja, ada sebuah rekening bernama Utsman bin Affan yang menyimpan kekayaan dari sumur yang telah dibeli 14 abad lalu. Padahal, saat itu Usman bisa saja membeli sumur tersebut dan tetap meminta masyarakat untuk membayar. Tetapi ia lebih memilih untuk berniaga dengan Allah, perniagaan yang memang tidak akan pernah merugi.

Apa yang dilakukan oleh Utsman itulah yang dikenal dengan istilah wakaf. Wakaf berarti berarti menahan atau berhenti. Maksudnya, ketika sebuah harta diwakafkan, harta itu menjadi milik Allah. Dan, harta wakaf itu harus digunakan untuk kemaslahatan bersama serta tidak boleh habis atau berkurang nilainya, atau dengan kata lain harus tetap diproduktifkan.

Pertanyaannya, apakah Indonesia mengenal wakaf?

Jawabannya, YES! Indonesia sudah mengenal wakaf sejak lama. Dulu, wakaf yang banyak dikenal masih seputar tanah yang diwakafkan untuk menjadi kuburan dan masjid. Padahal, peruntukan tanah wakaf mencakup banyak hal: sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Perkembangan wakaf di Indonesia pun semakin diperkuat dengan UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf serta saat pembentukan Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada tahun 2007. Dan melihat rekam jejak perjalanan wakaf di Indonesia, sudah banyak inovasi-inovasi yang dilakukan oleh BWI dan Organisasi Pengelola Wakaf (OPW) lainnya dalam memproduktifkan tanah wakaf yang diberikan oleh masyarakat.

Di bidang ekonomi, contohnya saja perkebunan yang dikelola oleh Wakaf Al Azhar di Ciseeng Bogor. Di atas tanah tersebut, akan ditanam pohon jabon dan singkong secara tumpang sari. Selain itu, ada juga rumah sewa yang dibangun di atas tanah wakaf seluas 679 meter persegi yang dikelola oleh Tabung Wakaf Indonesia Dompet Dhuafa (TWI-DD). Pemanfaatan tersebut membuat tanah wakaf menjadi produktif dan hasil keuntungannya dapat disalurkan di bidang sosial bagi para dhuafa.

RS AKA Sribhawono. Sumber: http://tabungwakaf.com

Di bidang kesehatan, sudah banyak rumah sakit atau klinik berbasis wakaf. Sebut saja salah satu contohnya fasilitas RS-AKA Sribhawono di Lampung Timur yang dikelola oleh TWI-DD. Rumah Sakit tersebut sudah beroperasi tahun 2017 silam dengan fasilitas kesehatan yang cukup lengkap. Masyarakat yang tidak mampu pun dapat  berobat dan menikmati semua fasilitas kesehatan tersebut dengan baik.

Wakaf juga sudah memberikan manfaatnya di bidang pendidikan. Salah satu contohnya bisa dilihat pada Pondok Pesantren Modern Gontor. Berkat wakaf yang dimiliki, kini Lembaga Wakaf Gontor telah mengelola aset tanah hingga lebih dari 200 hektar dan tersebar di Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Jombang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, dan Trenggalek. Dengan manfaat yang diperoleh dari wakaf tersebut, Pesantren Gontor dapat mengelola sekolahnya dengan mandiri serta dapat menyediakan pendidikan terbaik bagi para santrinya dengan biaya sekolah yang terjangkau.

Suasana di Gontor. Sumber: https://www.gontor.ac.id

Melihat banyaknya karya-karya wakaf di Indonesia, dapat dikatakan bahwa negara ini sudah cukup bagus dalam hal pengelolaan wakaf. Selain karena didukung regulasi juga karena kerja-kerja nazhir yang professional dalam mengelola asetnya. Bayangkan saja, manajer investasi saja masih bisa rugi tetapi kalau nazhir harus super hati-hati karena syarat harta wakaf yang tidak boleh habis.

Namun, masih banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh pengelola wakaf. Salah satunya adalah dengan memproduktifkan tanah wakaf yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut data Kemenag, tanah wakaf tersebar di 368.093 lokasi dan seluas 49.764,98 hektar. Untuk proses pemafaatannya, tanah-tanah tersebut harus didaftarkan untuk mendapatkan sertifikat. Sayangnya, baru 61,96% tanah yang sudah bersertifikat. Jika tidak memiliki sertifikat tanah tersebut tidak memiliki kekuatan hukum apabila di masa mendatang terdapat sengketa tanah.

Nah, bagaimana cara yang tepat untuk mengelola tanah wakaf agar lebih produktif?

Tiga cara untuk pengelolaan tanah wakaf. Sumber: Pribadi

Setidaknya, ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh organiasi pengelola wakaf. Pertama, bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda). Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mempermudah akses pendaftaran tanah wakaf. Saat semua tanah wakaf sudah tersertifikasi, maka proses pengelolaannya akan menjadi lebih mudah. Sejalan dengan itu, Pemda juga dapat memberikan anggaran untuk membantu memproduktifkan tanah wakaf tersebut.

Kedua, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat umum untuk memberikan wakaf tunai yang dapat digunakan dalam proses pengelolaan tanah wakaf. Jika zakat membutuhkan nishab dan haul tertentu, maka wakaf tunai lebih mudah karena bisa kapan saja dan tidak ada batasan minimal uang yang diberikan. Oleh sebab itu, sebenarnya potensi dana wakaf yang ada di Indonesia itu sangatlah besar.

Ketiga, pemetaan peruntukan tanah wakaf yang tepat. Tentu, mengelola satu tanah wakaf saja tidaklah mudah padahal Indonesia memiliki ratusan ribu yang perlu dikelola. Oleh karena itu, kerjasama seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan untuk pemetaan pemanfaatan tanah wakaf  agar dapat diproduktifkan dengan tepat guna. Bahkan, pemetaan tanah-tanah yang membutuhkan proses ruislag pun juga dapat dilakukan jika tanah wakaf  tersebut berada di lokasi yang sulit diakses.

Memang, tidak mudah melakukan ketiga hal tersebut dalam waktu singkat. Terdapat banyak hal yang harus dibenahi oleh semua pihak terkait dan masih dibutuhkan waktu yang relatif panjang. Tetapi, jika dulu wakaf dapat berjaya dan memberikan manfaat besar kepada masyarakatnya, maka kenapa sekarang tidak bisa? Kuncinya memang hanya satu yang perlu ditanamkan kepada para pengelola wakaf, apa yang telah disyariatkan oleh Allah, pasti akan selalu membawa kepada jalan kebaikan.

Depok, 23 Oktober 2019

Tulisan ini diikutsertakan di Kompetisi Blog Festival Literasi Zakat dan Wakaf 2019 yang diselenggarakan oleh bimasislam.kemenag.go.id dan literasizakatwakaf.com

Sumber:

www.bwi.go.id

www.siwak.kemenag.go.id/

www.instagram.com/literasizakatwakaf

www.lifeinsaudiarabia.net

hwww.gontor.ac.id/

www.dompetdhuafa.org

www.wakafalazhar.com

www.tabungwakaf.com

www.republika.co.id

 

Tanah Para Raja (1)

Pemandangan dari Pantai di Taman Nukila

Perjalanan ke Kota Ternate memang membuat saya sangat bersemangat. Sebenarnya, seharusnya saya pergi ke daerah Halmahera, pulau di seberang Kota Ternate. Tapi karena sebuah alasan daerah tersebut tidak jadi bisa saya datangi. Singkatnya ketika itu titik di Maluku Utara hilang dari daftar daerah yang harus didatangi.

Beberapa hari setelah pembatalan tersebut, tiba-tiba ada arahan untuk mendatangi Kota Ternate. Wah, saya pun segera mengajukan diri untuk datang ke sana. Gakpapalah ga ke Halmahera yang penting ke Maluku Utara. Kapan lagi coba ke Indonesia Bagian Timur?

Saya berada di kota ini hanya 3 malam 2 hari sehingga tidak banyak yang bisa dikunjungi. Singkat banget memang padahal perjalanan cukup jauh. Dari Jakarta saya dan teman saya, Novi, harus naik pesawat selama 3 jam 50 menit. Itu kalau dapatnya pesawat direct. Dan jangan lupa, di sini beda waktu dua jam sama Jakarta. Berangkat jam 09.45 sampainya jam 15.35. Kalau yang transit dulu? Ya makin panjang apalagi kalau ada yang delay.

Alhamdulilaah Batik Air yang saya naiki ada layarnya jadi saya bisa menonton. Fyi, tidak semua batik air ada tivinya loh. Sayangnya batik air tidak menyediakan headset. Kalau mau, ya bawa sendiri atau beli di pesawat. Harganya standar sih, 25ribu. Tapi saya tidak mau beli karena berbentuk earphone sedangkan telinga saya tidak kuat memakai earphone terlalu lama~

Salah satu hal yang menjadi concern saya ketika akan bepergian adalah: transportasi lokal! Saya sudah melihat bahwa di Ternate ada banyak tempat yang saya bisa kunjungi. Tapi kalau tidak ada alat transportasinya, ya susah juga. Saya sama sekali tidak ada bayangan mengenai Indonesia Bagian Timur. Di sini, saya terbiasa dengan transportasi online atau commuter. Nah, kalau di sana?

Berbekal dari browsingbrowsing, saya dapat informasi bahwa di Ternate bisa sewa ojek perjam dengan harga yang murah. Hanya saja saya tidak menemukan informasi tambahan tentang lokasi sewa ojek tersebut.

Ketika saya browsing lebih lanjut, saya menemukan informasi bahwa di Ternate ada aplikasi ojek online lokal! Wow saya senang sekali dong. Buru-buru saya mengunduh aplikasi yang bernama BAOJEK itu. Jasa yang ditawarkan banyak, tapi dari keterangan aplikasinya baru dua yang berjalan yaitu ojek dan pesan makanan. Menurut saya itu sudah lumayan banget.

Sayangnya ketika saya akan menggunakan aplikasi itu, ternyata tidak ada driver di sekitar saya hehe. Saya sebenarnya tidak tahu juga sih, apa memang tidak ada driver di sekitar saya atau memang jangan-jangan aplikasi ini masih dalam tahap pengembangan. Karena saya sempat bertanya pada orang local dan dijawab bahwa aplikasi itu belum berfungsi. Cuma sayanya aja yang tidak percayaan jadi tetap saya coba hehe.

Ternate itu, kalau dilihat di peta hanya sebuah titik kecil di tengah perairan. Saking kecilnya, Cuma butuh waktu 3 jam untuk mengitari kota kecil ini. Bahkan mantan wakil walikota di sana bercerita bahwa di masa mudanya beliau bisa kok olahraga mengitari kota ini.

Nah karena kotanya yang tidak kecil jadi urusan transportasi ternyata mudah tidak sesulit bayangan saya. Di jalan-jalan banyak terdapat angkot. Angkotnya sama seperti di Padang, soundsytemnya euy gadang-gadang bana! Jadi kayaknya di sini kalau mau cari angkot sambil merem juga bisa kok asal telinga dipasang baik-baik. Katanya sih, salah satu alasan kenapa pasang volume soundsytem besar-besar biar kalau di jalanan malam hari yang sepi tidak diganggu hantu. Hehe ada-ada saja memang.

Selain angkot, di sini juga mencari ojek itu ternyata mudah. Cukup berdiri saja di pinggir jalan, nanti akan ada yang menawarkan jasa ojek. Saya sudah mencoba ini beberapa kali dan selalu ada yang mengklakson sambil bertanya “ojek?”. Pengemudi-pengemudi ojek yang saya dan teman tumpangi pun tergolong ramah, walaupun ada juga yang nyeleneh nanya minta nomor HP.

Tapi yang saya paling salut adalah, mereka jujur! Dilihat darimanapun jelas sekali kami bukan orang lokal. Sebelum saya akan pergi ke Benteng Kalamata, saya sempat bertanya kepada resepsionis hotel berapa tarif dari hotel sampai tujuan. Kata mbak-mbaknya sekitar 15rb. Kalau di aplikasi baojek, saya cek sekitar 10rb. Berarti memang standarnya sekitar segitu.

Ketika sudah sampai di tujuan, karena uang saya yang pegang jadi saya bayar ojek dengan uang 50ribuan. Sama si abang ojek, dikembalikanlah uang kami 30rb. Saya pikir, oh ya sudahlah bayar 20rb tidak apa-apa. Eh ternyata,  habis itu abang ojeknya bilang ini buat berdua. Ooww. saya dan teman terbengong-bengong mendengar jawaban itu. Lalu abang ojeknya bilang lagi, ini buat berdua. Barulah kami bisa merespons dengan jawaban iya.

Maklum, sudah jadi hal yang sering saya temui kalau harga turis itu dimahalkan daripada harga orang lokal. Jadi saya dan Novi sangat salut dengan abang ojek yang tidak mengambil kesempatan itu. Bukan masalah nominalnya, melainkan kebaikan dia untuk tidak menaikkan harga hanya karena kami turis hehe.

Murah vs Mahal

X: Bank Syariah kok mahal sih dibanding bank konven? Berarti gak syariah dong?

AA: surga itu mahal! Makanya bank syariah mahal.

Percakapan di atas diulang oleh Pak AA di kelas Jumat pekan lalu. Itu jawaban versi setengah bercanda setengah serius sih, walaupun surga emang “mahal” karena ada usaha buat mendapatkannya. Jawaban serius dari Pak AA, karena size bank syariah yang memang masih kecil. Kalau saya bahasakan lebih sederhana, saat  kita jualan dalam skala besar dan skala kecil maka biaya produksi usaha skala kecil pasti lebih besar. Contohnya saja saat berjualan jilbab. Ketika membeli beli bahan dasar kain cuma sebanyak 10 yard sama beli kain 10 rol harganya jauh beda. Bedanya bisa sampai 10 ribu per yardnya. Makanya jangan heran kalau produsen kelas kakap (terkadang) bisa jualan dengan harga lebih murah.

Statement mahal berarti tidak syariah sebenarnya cukup menarik dibahas. Orang-orang memang cenderung memaknai yang namanya syariah harus murah. Padahal kriteria sebenarnya adalah mengenai halal atau haram. Jika halal, misalnya meminjam uang untuk usaha di lembaga keuangan syariah, mau sebesar apapun margin bagi hasil yang diminta, itu tetap halal atau sesuai syariah. Namun, jika pinjam meminjam tersebut menggunakan bunga, mau sekecil apapun bunga yang diminta, mau 0,000000000001 persen kek, tetap aja haram alias ga syariah.

Nah kembali ke topik bank syariah, biar ga mahal, makanya pada beralih dong ke bank syariah biar sizenya semakin gede dan murah :p

-Jakarta 23 Februari 2017-

 

Sidang!

Bismillaahirahmaanirrahiim

Ramadhan selalu punya cerita buat dibagi dan tidak terkecuali di Ramadhan tahun ini. Tepat tanggal 9 Ramadhan, akhirnya aku lulus juga dari pertempuran hampir tiada akhir dengan makhluk bernama Tugas Akhir. LOL. Sama seperti ketika s1 dulu, alhamdulillaah aku dapat dosenpembimbing yang amat sangat mendukung mahasiswanya untuk lulus cepat.

dulu, pas zaman s1, aku masih ingat kita lagi diskusi sama dosen pembimbing tercinta. qodarullaah, beliau tidak bisa berjalan alias memakai kursi roda sehingga biasanya kami bimbingan di rumah beliau, seringnya di ruang keluarga tetapi sesekali di kamar beliau. nah, kala itu 28 agustus 2013, dan deadline kami harus lulus adalah tanggal 31 agustus. kalau ga sidang sebelum tanggal itu yaa berarti kami menambah bayar uang sekolah. pas kami cerita seperti itu, bapaknya langsung bilang “ya sudah kalian sidang hari sabtu saja ya. soalnya setelah ini mau ke turki dan ke yogya (lupa bapaknya bilang apa lagi)”

kami? antara senang bakal lulus dan deg-degan. kalau sidang tanggal 31, maka kami harus mengumpulkan draft skripsi maksimal esok sore. sedangkan kami saja bimbingan malam hari. bisa gak tidur ini mah :)). dan alhamdulillaah walau tidak semua anak bimbingan Bapak bisa sidang hari sabtu, karena mereka belum selesai, tapi aku dan 3 orang lain bisa sidang hari sabtu.

pengalaman ini rada mirip-mirip dengan sidang kemarin. draft tesis maksimal dikumpulkan tanggal 1 Juni. tetapi kami dapat kelonggaran untuk dikumpulkan hingga tanggal 6 Juni 2016. dan lucunya, tanggal 3 Juni aku ditelepon oleh akademik kampus. “Mba Aisha, Ibu ****** minta kalian dijadwalin sidang hari Selasa ya tanggal 14 Juni” dan aku setengah percaya setengah engga, ngejawab “Mba saya kan belum ngumpulin draft tesis ke akademik?”.

Depok, 2 Syawal 1437H