New Normal Starter Kit : ASUS S14 S433

Pandemi Mempercepat Disrupsi

Berkreasi Menembus Batas di Masa Pandemi

“Laptopnya mau dipake buat apa mba? Kok spesifikasinya tinggi?”

Mas-mas penjual laptop bertanya dengan heran. Mungkin, karena saya terlihat masih seperti mahasiswa, tidak ada wajah jago desain grafis atau konten kreator, tetapi memilih memakai laptop yang cukup bagus.

Dulu, aktivitas seperti itulah yang sepertinya membutuhkan spesifikasi laptop yang tinggi. Pekerjaan lain dianggap hanya membutuhkan laptop dengan kapasitas standar. Tapi siapa sangka, hanya 2 tahun setelah terjadinya dialog tersebut, muncul sebuah virus dengan ukuran yang sangat kecil dan memaksa semua orang untuk mempercepat disrupsi?

Ya, adanya virus ini memang membuat tatanan kehidupan berubah secara drastis. Orang-orang yang biasanya melakukan tatap muka secara langsung untuk beraktivitas, kini harus puas dengan bertemu secara daring. Sekolah-sekolah tutup berganti menjadi pembelajaran jarak jauh. Begitu pula dengan perkantoran yang menetapkan protokol bekerja dari rumah untuk sebagian besar karyawannya.

Kata-kata seperti “maaf saya gaptek” seolah-olah menjadi tabu. Tidak ada kata tidak bisa, semua harus beradaptasi dengan teknologi. Mulai dari yang muda hingga yang tua kini harus memanfaatkannya agar tidak kehilangan kesempatan.

Hal tersebut pun menimbulkan konsekuensi yang lain: memiliki laptop dengan spesifikasi tinggi menjadi tidak terelakkan.

Coronavirus,  Bukan Alasan untuk Tak Produktif

Meski sudah memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), pergerakan memang masih terbatas. Kita tidak boleh sembarangan bepergian jika tidak penting. Tetapi, apakah lantas hal tersebut menjadi alasan untuk bermalas-malasan? Tentu tidak.

Sebagai seorang peneliti, saya justru menjadi tertantang dengan kondisi ini. Bukan, saya bukan seorang peneliti yang mencari antivirus dari Corona. Saya adalah seorang peneliti di dunia filantropi. Sebelum adanya virus ini, saya bertugas ke berbagai macam daerah untuk meneliti.

Saya pernah pergi ke daerah bencana dan bertemu dengan para penyintas di Lombok dan Palu. Saya juga sering bertemu dengan penerima bantuan program pemberdayaan dan berbincang-bincang berbagai macam hal. Tak jarang pula, saya dikirim ke daerah-daerah untuk mengisi pelatihan terkait kajian yang dikeluarkan oleh lembaga tempat saya bekerja.

Tentu, banyak hal yang kini tidak bisa saya lakukan. Meski bepergian sudah dimungkinkan, tetapi lembaga tempat saya memilih jalan aman. Semua urusan dinas luar dialihkan menjadi pertemuan secara daring. Beberapa survei yang biasanya saya lakukan sendiri di lapangan, kini harus memaksimalkan surveyor lokal dengan pembekalan terlebih dahulu melalui media daring.

Dare To Be You di Masa Pandemi

Di masa pandemi ini, saya merasa beban pekerjaan selama work from home berkali-kali lipat lebih berat. Tidak ada  batasan yang jelas antara waktu bekerja dan istirahat, semua terasa bias. Agar saya tidak kalah dengan keadaan, saya pun menerapkan tiga hal ini:

  1. Menjalankan Protokol Kesehatan
    Tidak sekedar menaati protokol kesehatan saat berada di luar rumah dengan menggunakan masker maupun mencuci tangan. Namun juga saya perlu menjaga kondisi tubuh dengan makanan sehat, dan aktivitas tubuh secara rutin.
  2. Kreatif di Berbagai Kesempatan
    Menyikapi beban kerja yang bertambah saya harus pintar-pintar mengatur jadwal. Ditambah model pekerjaan  yang beragam yang menuntut saya untuk selalu kreatif menyelesaikan tantangan demi tantangan.
  3. Menyiapkan Perangkat yang Mumpuni
    Terakhir, namun tak kalah penting: perangkat yang memadai. Bagaimana mungkin saya bisa mengisi pelatihan secara daring, jika laptop saya mumpuni? Sudah pasti saya membutuhkan perangkat dengan kamera beresolusi tinggi. Ram yang besar juga diperlukan karena pasti saya akan membuka banyak file selama presentasi. Belum lagi jika saya harus memiliki berbagai macam aplikasi video daring yang akan memakan banyak memori laptop.

Pilihan Gadget untuk Era New Normal

Di saat pandemi seperti inilah,saya merasa bahwa laptop semakin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan hidup. Rasanya saya butuh perangkat laptop yang berani, dengan spesifikasi tinggi, yang ketika saya bekerja laptop tersebut menjadi sebuah identitas diri yang tidak terpisahkan.

Spesifikasi ASUS S14 S433

Beruntunglah, awal Mei lalu ASUS, produsen laptop kesukaan saya mengeluarkan sebuah produk baru: ASUS Vivobook S14 S433. Jimmy Lin, ASUS Regional Director Southeast Asia mengatakan bahwa

Didukung hardware terkini, VivoBook S14 S433 merupakan laptop paling trendy dengan performa terbaik di kelasnya.

Membaca berita tersebut, semakin meyakinkan saya bahwa ASUS S14 S433 ini benar-benar cocok dengan karakter saya sebagai seorang peneliti yang dituntut untuk dinamis.

Desain Kekinian yang Mendukung Portabilitas

Ada dua hal yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih desain laptop: estetika dan fungsionalitas. Meski kini masih banyak melakukan kegiatan di rumah saja, akan tiba kembali waktu dimana kita kembali beraktivitas dengan normal. Memilih laptop yang kompak juga ringan sangat mendukung saat kita  memiliki mobilitas tinggi.

Apalagi saya sering dikirim ke daerah untuk waktu yang singkat. Demi efisiensi waktu, saya lebih senang menggunakan ransel. Semua barang, mulai dari laptop, baju, dan peralatan lainnya pun tercampur menjadi satu. Punggung saya seringkali merasa lelah akibat beratnya laptop yang dibawa.

Oleh karena itu, ASUS VivoBook S14 S433 dengan tebal 15,9 mm dan bobot 1,4 kg akan menjadi teman yang tidak merepotkan. Apalagi, di masa sekarang ini perlengkapan yang dibawa juga akan semakin banyak karena alasan kesehatan. Laptop dengan bobot yang ringan dan tipis pastilah akan membuat saya tidak perlu membawa tas yang banyak.

4 Warna Ciamik ASUS S14 S433

Pertimbangan estetis juga tak kalah penting. Laptop dengan desain kece tentu bisa menjadi pendorong semangat kita dalam bekerja, bukan? ASUS Vivobook S14 S433 punya empat (4) pilihan warna : Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver dan Resolute Red. Pinggirannya didesain dengan diamond cut design yang menambah elegan tampilannya.

Berkreasi dengan Stiker Penuh Warna

Desain logo yang segar dan peletakannya di bagian tepi cover depan membuat luasnya negative space yang muncul. Ruang ini bisa dikreasikan dengan berbagai label atau sticker sesuai selera. Saya bisa terlihat profesional dan tetap terasa personal dalam waktu bersamaan.

Performa yang Handal

Processor 10th Gen Intel Core yang Hemat Daya

Diantara sederet jadwal rapat online, saya juga perlu menyiapkan bahan presentasi. Sesekali saya perlu mengedit foto dan membuat infografis agar visualisasi data hasil penelitian semakin mudah dipahami. Aplikasi seperti Google Studio, Flourish, Canva, menjadi mutlak untuk digunakan. Selama ini, saya harus bersabar dengan kapasitas laptop saya yang belum mumpuni sehingga loading aplikasi cukup berat.

Namun, jika menggunakan laptop ini, semua hal tersebut bisa dijalankan secara prima berkat dukungan processor Intel Core 10th generation. Processor terkini ini membuatnya bertenaga juga hemat daya. Maka saya tetap bisa produktif lebih lama meski sedang di luar rumah atau bahkan saat harus pergi ke tempat terpencil yang susah listrik. Ram 8GB yang ditanam juga bisa membuat saya menjalankan aplikasi secara multitasking dengan lancar jaya.

Display yang Nyaman

Tampil Gaya dengan ASUS S14 S433 di Bawah Terik Matahari

Sesekali menyaksikan film kesukaan, atau membuka channel youtube kesayangan saat beristirahat terasa makin spesial berkat layar Full HD, IPS Panel dengan akurasi warna 100% SRGB. Dilengkapi teknologi Nanoedge Display yang membuat layar terasa lega dengan sudut pandang hingga 178 derajat. Tambahan anti glare akan membuat saya tetap nyaman jika suatu saat perlu beraktivitas di bawah terik matahari.

Kualitas Suara Asik

ASUS S14 S433, Kenyamanan Bekerja dan Bersantai dalam Satu Perangkat 

Selama pandemi ini, kegiatan saya penuh dengan mengajar secara daring. Sesekali saya juga harus belajar melalui webinar, atau presentasi paper di konferensi internasional. Jika saya memiliki laptop ASUS S14 S433 ini, tentu tidak akan ada kendala suara karena adanya sokongan speaker Harman Kardon.Tidak hanya itu saja, selain dapat memenuhi kebutuhan kerja saya, menikmati konser virtual dari rumah pun akan terasa jauh lebih menyenangkan.

Konektivitas yang Lengkap dan Mumpuni

Konektivitas Tanpa Batas

Dalam urusan transfer data, saya tidak ragu berkat berbagai port yang ditanam di laptop ini.  Pada sisi kanan terdapat card reader micro SD dan USB 2.0 , sedangkan di sisi kiri terdapat port DC, HDMI, USB 3.2 Gen.1 Type-A, USB 3.2 Gen.1 Type-C, dan Audio Combo 3.5 mm. 

Untuk urusan nirkabel, ASUS S14 S433 ini juga dilengkapi Bluetooth 5.1 dan Wi-FI 6. Wi-Fi 6 merupakan teknologi terkini yang bisa menghadirkan kecepatan jaringan super cepat dengan kualitas lebih baik. Saya tidak khawatir terjadi delay maupun lag saat menjalankan rapat maupun presentasi penting.

Fitur Premium

Fingerprint sudah menjadi hal lumrah sebagai autentikasi di berbagai perangkat. Menjadikan akses masuk lebih cepat dan lebih aman. ASUS Vivobook S14 S433 juga dilengkapi sensor fingerprint yang terintegrasi dengan Windows Hello di Windows 10. Hal ini juga membuat data penelitian saya lebih terjamin keamanannya, karena tidak bisa sembarang orang mengaksesnya.

Log in dengan Windows Hello

Selain fitur fingerprint, pada ASUS Vivobook S14 S433 juga terdapat fitur backlit keyboard yang memungkinkan saya mengetik meski kualitas pencahayaan sedang tidak begitu baik. Satu lagi yang membuat aktivitas bisa semakin mudah adalah didukung kemampuan fast charging, dimana bisa mnegisi 60 % daya dalam 49 menit. Saya tidak takut kehilangan momen akibat laptop tiba-tiba kehabisan energi.

ASUS premium warranty

Jaminan yang Luar Biasa dari ASUS

Aktif menggunakan perangkat laptop, bukan tanpa risiko. Mungkin terjadi kecelakaan kecil yang menyebabkan kerusakan pada perangkat kita. Apalagi bagi saya yang sering sekali membawa laptop untuk bekerja ke luar kota. Tetapi perasaan khawatir saya seketika hilang ketika mengetahui ASUS sangat memberikan perhatian yang besar terhadap garansi yang diberikan. Selain garansi selama dua tahun, ASUS menanggung biaya perbaikan sebesar 80% akibat kerusakan yang disebabkan kesalahan pengguna. Makin merasa aman kan jadinya?

Dare To Be You bersama ASUS S14 S433

ASUS S14 S433: New Normal Starter Kit

Lewat laptop keluaran terbarunya, ASUS memang menantang kita -atau saya- agar lebih berani menjadi diri sendiri. Kreativitas tanpa batas menjadi mutlak dilakukan, tidak berhenti hanya pada pekerjaan kreatif tetapi menembus semua lini yang ada. Pekerjaan-pekerjaan yang dulunya dianggap statis kini pun bertransformasi menjadi dinamis.

Tidak salah memang, jika akhirnya ASUS S14 S433 pun menjadi sebuah starter kit yang saya harapkan akan ada di dalam tas saya sehari-hari. Menemani saya melewati batas-batas teknologi sebagai seorang peneliti di dunia filantropi.

Tulisan ini diikutsertakan di Blog Competition Dare To Be You With Vivobook S14 S433

Gambar dan infografis diolah dari sini, sini, dan sini.

Mengharap Kasih Setahun Sekali

Sumber: www.warningmagz.com

Potret Kesendirian di Nunggu Teka

Apa yang diharapkan dari kehidupan, setelah usia meranggas pasti? Tidak lain tentunya sebuah kebahagiaan yang bagi sebagian orang terwujud dalam kebersamaan dengan keluarga. Sederhana, namun tak semua orang bisa mendapatkan kemewahan tersebut.

Tengoklah sekitar, saat banyak para lanjut usia yang harus hidup sendiri. Pasangannya telah pergi menuju keabadian, pun keturunan tak lagi di sisi, pergi mengepakkan sayap ke semesta luas.

Di saat seperti itu, momen sekali setahun seperti mudik saat lebaranlah yang menjadi asa bagi mereka. Mungkin hanya seminggu dari puluhan minggu yang ada untuk bercengkrama bersama anak cucu. Rasanya  itu sudah lebih dari cukup.

Dalam film pendek berjudul Nunggu Teka, Mahesa Desaga dengan apik menggambarkan betapa pentingnya momen mudik tersebut dari sudut pandang orang tua. Cerdasnya, tanpa menggunakan berbagai macam setting tempat, hanya bermodalkan sebuah rumah tua, namun saya dapat menyelami jiwa penghuninya: Supatemi.

Sebab, rumah bukan sekadar fisik keterbangunan. Tumbuh kembang penghuninya terekam di setiap sudut dan ruang. Keramik yang mengusam, dinding yang tak sehalus dulu, perabotan yang mengusang seolah-olah ingin berkata bahwa,”Hey, aku ikut menua bersamamu.”

Menonton Nunggu Teka, saya seperti sedang melongok ke dalam melalui tepi jendela rumah ini. Kesendirian yang dialami Supatemi saat menunggu anaknya terlihat jelas meski tanpa ekspresi berlebihan atau dialog yang didramatisasi.

Adegannya sederhana berupa gambaran kegiatan sehari-hari tetapi mampu memperlihatkan kondisi kesepian seorang Supatemi. Lihat saja saat ia menyalakan televisi.  Bukan untuk menonton, hanya untuk memecah kesunyian. Atau saat matanya beredar ke sudut-sudut rumah sambil memainkan rambut maupun jari jemarinya, seakan bingung bagaimana menghabiskan waktu.

Menikmati film ini di masa pandemi entah mengapa mengetuk emosi terdalam saya. Membayangkan betapa banyak orang tua yang harus menelan kekecewaan karena tidak bisa berkumpul sejenak dengan keluarga terkasih.

Akhirnya kita pun dituntut untuk kreatif agar bisa bersua meski tanpa kehadiran fisik. Tak sempurna, tetapi semoga itu bisa menjadi pelipur lara untuk orang tua kita yang terjebak kesendirian.

Sungguh, tidak ada salahnya juga untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Siapa tahu, banyak lansia lain yang juga harus menelan kekecewaan. Mungkin kita bukan yang mereka rindukan. Tetapi jika sedikit perhatian kita bisa menjadi penyemangat mereka untuk kembali merajut harapan Nunggu Teka di momen mudik berikutnya, mengapa tidak?

Haruskah Berakhir Sendiri?

Kondisi Supatemi memang lumrah ditemui. Di ujung usia, para lansia ini harus bertahan hidup sendiri. Tinggal sendiri dianggap lebih baik saat hidup bersama keluarga tidaklah memungkinkan. Tak jarang mereka pun meninggal dalam keadaan sunyi.

Meski belum umum di Indonesia, seharusnya orang-orang seperti Supatemi layak mendapatkan kebahagiaan baru dengan tinggal di rumah jompo. Bukan berarti dengan tinggal di sana berarti anak-anak telah membuang mereka. Sungguh, panti jompo mampu menjadi alternatif lebih baik dibandingkan dengan kesendirian. Lansia ini dapat berkumpul bersama teman segenerasi. Urusan kesehatan dan makanan pun terjamin berkat adanya petugas yang membantu.

Di rumah baru ini, paling tidak jika sudah tiba saatnya bagi mereka untuk menutup mata, dan keluarganya belum bisa datang segera, ada teman-teman yang bisa menemani. Sehingga para lansia tidak perlu berakhir sendiri di rumah tua mereka.

Perahu Kertas yang (Berusaha) Berlayar

Berbagai Sumber

Tentu, mengangkat kisah film dari novel laris mengandung risiko besar: apakah eksekusinya akan berhasil memuaskan ekspektasi penonton?

Sedari awal, perahu kertas bukanlah sekadar sebagai simbolis melainkan menjadi bagian penting dalam berkisah. Perahu kertas merupakan alat komunikasi Kugy (Maudy Ayunda) untuk mencurahkan isi hatinya kepada Sosok Neptunus (Penguasa Laut).  Kugy merasa dirinya adalah agen dengan radar Neptunus yang dikirim ke bumi. Imajinasinya yang tinggi tentang cerita-cerita pun akhirnya melahirkan sebuah mimpi bahwa ia ingin menjadi seorang penulis dongeng.

Tetapi Kugy sadar bahwa mimpinya tidak realistis. Di saat seperti itulah, Kugy bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken) yang memiliki keinginan menjadi seorang pelukis, sebuah mimpi yang sama-sama dianggap tidak umum.

Saat Kugy dan Keenan beradu pendapat tentang mimpi

Adegan yang menarik muncul saat mereka saling membicarakan mimpi: Kugy yang berusaha realistis dengan mendapatkan hidup layak seperti orang “normal” barulah mengejar mimpinya dan Keenan yang beranggapan bahwa selayaknya mimpi harus dikejar sesegera mungkin, tanpa peduli pendapat orang lain.

Meski berbeda pandangan tentang cara menggapai mimpi tetapi mereka sebenarnya saling mengagumi. Menimbulkan sebuah romansa dua insan yang terikat benang kuat namun tidak diekspresikan lewat kata-kata yang nyata.

Ide cerita yang diangkat memang menarik, sederhana tetapi seharusnya mampu merangkul banyak penikmat karena kedekatannya dengan keseharian. 

Bukankah semua pernah mengalami masa muda yang penuh gejolak dalam mewujudkan cita yang dibumbui dengan  manis persahabatan juga asmara?

Seperti menyibak diary seseorang, film Perahu Kertas ini mengalir dengan alur maju. Nama lokasi dan tahun juga dituliskan di setiap transisi latar adegan. Sayangnya, alur penceritaan seperti ini cenderung kurang bertenaga membangun ketegangan emosi. Apalagi ditambah dengan banyaknya konflik yang dimunculkan sementara eksekusi detail cerita tidak begitu  mulus.

Kurang gregetnya film ini juga terasa dari kelemahan penggambaran karakter serta kurangnya penghayatan beberapa pemain. Misalnya, dari cara film ini menerjemahkan keanehan cara berpikir Kugy dengan gerak-gerik yang terasa kikuk. 

Begitu juga Adipati Dolken yang menjadi tak bisa dibedakan kapan sesungguhnya ia marah dan kesal karena hampir lebih dari separuh film ia hanya terlihat murung dan bingung. Bagi pecinta novelnya, detail luapan perasaan Keenan yang selalu mencari keberadaan dan kesempatan untuk dekat dengan Kugy pun juga terasa hilang.

Keenan saat berusaha melukis di Bali

Tentu saja masih ada yang bisa kita nikmati, visual yang ditampilkan begitu memikat dari permulaan film. Keindahan Bali yang ditampilkan lewat lukisan, tarian, dan pun menjadi nilai tambah yang eksotis. Belum lagi iringan latar musik yang disajikan sungguh nyaman menemani sepanjang film, terutama saat adegan monolog Kugy yang disajikan dengan diksi yang puitis.

Alunan lagu tersebut seketika membuat kita merasa seperti hanyut ikut berlayar bersama perahu kertas Kugy.

Cerita Kugy dan Keenan memang belum berakhir. Tetapi sayangnya untuk sekuel pertama ini Perahu Kertas memang masih perlu berusaha keras untuk berlayar dengan mulus. Namun semoga, Radar Neptunus dapat menangkap hati lebih banyak orang lagi di sekuel Perahu Kertas selanjutnya.

Depok, 3 Juli 2020

Tulisan ini disertakan dalam lomba #ulasfilmkemdikbud